DETAIL KOLEKSI

Peningkatan Sistem Pemanenan Biomassa Mikrolalga Melalui Bioflokulasi : Studi Produksi Mikroalga Untuk Menunjang Kelayakan Ekonomi : Tahun Ke 2 Dari Rencana 2 Tahun


Oleh : Astri Rinanti, Ronny Purwadi

Info Katalog

Penerbit : Lemlit - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2018

Subyek : Microalgae - Biotechnology

Kata Kunci : biofloculan, harvest, microalgae, biomass productivity, recovery efficiency


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2018_LP_TL_Peningkatan-Sistem-Pemanenan_1.pdf 2655.66
2. 2018_LP_TL_Peningkatan-Sistem-Pemanenan_2.pdf 2543.34
3. 2018_LP_TL_Peningkatan-Sistem-Pemanenan_3.pdf 4001.24
4. 2018_LP_TL_Peningkatan-Sistem-Pemanenan_4.pdf 1258.5
5. 2018_LP_TL_Peningkatan-Sistem-Pemanenan_5.pdf 1744.95
6. 2018_LP_TL_Peningkatan-Sistem-Pemanenan_6.pdf 4012.93
7. 2018_LP_TL_Peningkatan-Sistem-Pemanenan_7.pdf 975.09
8. 2018_LP_TL_Peningkatan-Sistem-Pemanenan_8.pdf 1359.68
9. 2018_LP_TL_Peningkatan-Sistem-Pemanenan_9.pdf 26691.24

D Dalam sistem kultivasi mikroalga untuk menghasilkan biomassa yang tinggi, tahap pemanenan mikroalga merupakan bagian yang sangat penting. Namun demikian, pemanenan mikroalga seringkali masih menimbulkan beberapa masalah. Untuk meningkatkan kelayakan ekonomi penggunaan mikroalga sebagai upaya memperoleh produk akhir yang bermanfaat, terdapat tiga parameter kunci yang penting yaitu produktivitas biomassa mikroalga yang tinggi, kandungan senyawa metabolit yang tinggi, serta metode pemanenan yang murah dan aman bagi lingkungan. Pemanenan mikrolaga dapat dilakukan dengan beberapa teknik seperti sentrifugasi, filtrasi, sedimentasi, flokulasi, flotasi, ultrasonic vibration, dan screening. Permasalahan utama teknik-teknik pemanenan tersebut adalah memerlukan biaya operasional yang mahal karena ketergantungan terhadap energi yang tinggi serta menimbulkan permasalahan barn akibat air sisa produksi yang hams diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke dalam badan air.Penelitian mengenai bioflokulasi ini merupakan penelitian lanjutan yang bertujuan untuk memperoleh teknik pemanenan yang murah dan ramah lingkungan, sehingga kelayakan ekonomi dalam produksi biomassa mikroalga dapat ditingkatkan. Bioflokulasi merupakan teknik pemanenan mikroalga yang prinsipnya sama dengan flokulasi yang diinduksi secara kimia, yang menjadi pembeda adalah flokulan yang digunakan. Bioflokulasi menggunakan makhluk hidup seperti bakteri, fungi, atau mikroalga sebagai flokulan. Dengan mempelajari gradien kecepatan pembentukan flok, secara khusus penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai keragaman mikroalga sebagai agen flokulan yang memberikan yield biomassa paling tinggi. Untuk menentukan kemampuan strain mikroalga sebagai flokulan atau non-flokulan maka perlu dihitung recovery efficiency, yaitu recovery oleh mikroalga non-flokulan terhadap mikroalga flokulan dibagi dengan recovery mikroalga non-flokulan tanpa kehadiran mikroalga flokulan.Penggunaan mikroalga sebagai flokulan tidak memerlukan media pertumbuhan yang berbeda sehingga dapat mengurangi biaya tambahan. Selain itu akan mencegah kontaminasi bakteri terhadap mikroalga yang akan dipanen. Hal yang terpenting, bioflokulasi dengan memanfaatkan mikroalga lebih ramah lingkungan karena air sisa pemanenan yang tidak mengandung bahan kimia dapat digunakan kembali atau dapat dibuang tanpa hams memerlukan perlakukan khusus dengan biaya mahal. Selain itu flokulan mikroalga dapat mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan energi dalam proses pemanenan hingga pengolahan mikroalga menjadi produk yang bermanfaat. Luaran yang dicapai pada tahun pertama adalah diperoleh keragaman mikroalga tropis sebagai bioflokulan melalui studi kelayakan beberapa mikroba yang berpotensi sebagai bioflokulan. Penelitian tahun kedua ini menghasilkan luaran berupa metode pemisahan dan pemanenan mikroalga dengan memanfaatkan bioflokulan berdasarkan studi kelayakan pada tahun pertama 2017.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?