DETAIL KOLEKSI

Model layanan kesehatan laki-laki usia produktif : tahun ke 3 dari rencana 5 tahun


Oleh : Novia Indriani Sudharma, Rina Kurniasri Kusumaratna, Alvina

Info Katalog

Penerbit : Lemlit - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2014

Subyek : Men's health services - Indonesia

Kata Kunci : model of services, health care, men's health, men of reproductive age


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2014_LP_KD_Model-Layanan-Kesehatan_1.pdf 1879.51
2. 2014_LP_KD_Model-Layanan-Kesehatan_2.pdf 1192.34
3. 2014_LP_KD_Model-Layanan-Kesehatan_3.pdf 1504.13
4. 2014_LP_KD_Model-Layanan-Kesehatan_4.pdf 619.88
5. 2014_LP_KD_Model-Layanan-Kesehatan_5.pdf 585.19
6. 2014_LP_KD_Model-Layanan-Kesehatan_6.pdf 3495.87
7. 2014_LP_KD_Model-Layanan-Kesehatan_7.pdf 1054.01
8. 2014_LP_KD_Model-Layanan-Kesehatan_8.pdf 2558.63

T Topik mengenai kesehatan pria sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1990. Topik ini mulai diangkat sebab kesehatan pria bukanlah satu masalah saja ataupun konsep yang sederhana. Telah banyak dipublikasikan perbedaan gender dalam kaitannya dengan morbiditas dan mortalitas. Baik dari angka harapan hidup pada laki-laki yang lebih rendah dari pada perempuan (Menurut WHO/SEARO, pada tahun 2010-1015, angka harapan hidup pria Indonesia adalah 68,3 th, sedangkan wanita 72,8 tahun), kematian usia produktif yang lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding perempuan (Riskesdas 2007), penyakit-penyakit penyebab kematian yang lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding perempuan, di antaranya penyakit kardiovaskular yang bahkan dewasa ini terjadi pada laki-laki dengan kelompok umur yang lebih muda Telah banyak dipublikasikanjuga, bahwa perilaku berisiko lebih banyak terjadi pada laki-laki, seperti rnisalnya gaya hidup merokok dan alkohol yang secara jelas terlihat lebih tinggi pada kelompok laki-laki , asupan makan dan aktivitas fisik yang kurang, ataupun kecenderungan perilaku agresif yang lebih tinggi pada pria. Meskipun demikian, dalam hal pencarian layanan kesehatan, biasanya laki-laki lebih jarang berkunjung ke pelayanan kesehatan dibandingkan perempuan. Mereka hanya datang jika memang benar-benar diperlukan, misalnya jika sudah menganggu aktivitas atau bahkan jika penyakitnya sudah parah. Data kunjungan ke Puskesmas laki-laki usia produk1if lebih rendah dibanding perempuan yaitu sebesar 35%-40% (SKRT 2004). Sementara itu, dari program Puskesmas, belum terlihat program yang cukup spesiflk untuk menampung masalah kesehatan laki-laki. Dari beberapa literatur, dan dari beberapa teori tentang perilaku (health belief model. social cognitive model, Integrated theoritical model), didapatkan banyak hal yang berkaitan dengan perilaku pencarian layanan kesehatan pada laki-laki. Di antaranya adalah persepsi pasien mengenai kesehatannya sendiri. Sering pasien laki-laki merasa tidak sakit atau merasa tidak perlu melakukan deteksi dini. Laki-laki umumnya berkunjung jika penyakitnya sudah mengganggu aktivitas atau pekerjaannya, atau secara umum mengganggu kualitas hidupnya. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap pencarian layanan kesehatan pada laki-laki di antaranya adalah determinan sosial, faktor budaya maskulin pada jenis kelarnin laki-laki, dukungan dari komunitas sekitar, baik keluarga, teman, ataupun kelompok-kelompok komunitas lain, dan penyedia layanan kesehatan, yang kita fokuskan di sini adalah Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan primer di komunitas. Dari hasil penelitian tahun pertama mengenai deterrninan status kesehatan laki-laki usia produktif, didapatkan proporsi status kesehatan yang kurang sebesar 56,1% (secara subyektif dengan menggunakan health perception questionnaire). Status morbiditas hampir sama dengan angka nasional (untuk DM, hipertensi, dan obesitas), tetapi pada penelitian tahun pertama ditemukan bahwa proporsi yang cukup tinggi untuk dislipidemi, yaitu sebesar 54,2%. Dari hasil penelitian tahun kedua didapatkan bahwa laki-laki terutama daerah urban, tidak segan untuk mencari pengobatan, karena ditunjang oleh adanya jaminan kesehatan yang dipermudah, dan juga tidak sulit ataupun banyaknya pilihan akses kesehatan yang ada pada daerah rural di Jakarta ini. Baik dari pihak laki-laki maupun tenaga kesehatan juga didapat belum dibutuhkannya jam pelayanan khusus dan bentuk khusus seperti klinik tersendiri bagi laki-laki, karena hal ini masih dapat teratasi dengan bentuk dan jam pelayanan yang telah ada, disamping masih banyaknya pilihan layanan kesehatan di luar Puskesmas sebagai layanan kesehatan primer. Tetapi, hal yang perlu dicermati adalah perilaku (life style) berisiko laki-laki yang masih tinggi, ditambah lagi pemahaman tentang penyakit yang masih belum tepat, dan kesadaran untuk melakukan pencegahan, masih rendah di kalangan laki-laki. Dari pihak laki-laki, diinginkan agar dilakukan usaha-usaha untuk dapat lebih meningkatkan pengetahuan mereka tentang penyakit, terutarna penyakit yang banyak menyerang laki-laki. Selain itu, diperlukan usaha-usaha proaktif untuk dapat meningkatkan kewaspadaan laki-laki mengenai penyakit dan faktor risikonya, sehingga diharapkan dapat mempengaruhi kemauan dan kemampuan dalam hal pencegahan penyakit. Usaha-usaha tersebut dapat dimasukkan dalam kategori promosi kesehatan, dengan tujuan menghasilkan perubahan perilaku dalam diri laki-laki. Dalam kaitannya dengan perubahan perilaku, diperlukan lingkungan yang dapat mendukung perubahan perilaku tersebut, yang meliputi lingkungan individu dan juga lingkungan masyarakat. Berkaitan dengan penemuan pada tahun pertama dan kedua, pada tahun ketiga ini diperlukan usaha-usaha untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara lingkungan dengan perilaku kesehatan pada laki-laki usia produktif, sehingga dapat dikembangkan suatu sistem yang dapat mendukung perubahan perilaku, yang seturut dengan kebutuhan laki-laki usia produktif tersebut. Pada pria, faktor individu yang berperanan dalam kesadaran perilaku sehat, didapatkan sebagian besar responden berobat jika sakit/ada gejala, sebagian besar responden tidak mengetahui mengenai pola makan yang benar, masih banyak responden yang sulit meninggalkan merokok karena merasa enak jika merokok, alasan tidak olah raga pada sebagian responden adalah lelah bekerja/tidak punya waktu karena kerja, pengetahuan mengenai penyakit hanya dimiliki oleh mereka yang sudah terkena penyakit, PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) menurut responden hanya berkisar pada cuci tangan sebelum makan dan tidak merokok, ada responden yang tidak mau percaya mengenai penyakit karena memiliki keyakinan mengenai ilmu/wangsit. Faktor masyarakat dalam hal ini yang dilakukan dalam Posbindu, didapatkan banyak responden yang belum mengerti/bahkan belum tahu mengenai Posbindu dari kalangan kader maupun petugas kesehatan, pemahaman mengenai Posbindu belum sama, masih sedikit tenaga kesehatan/kader yang mendapat pelatihan mengenai Posbindu, sering dijadikan satu dengan Posyandu Lansia

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?