DETAIL KOLEKSI

Analisis fasies dan paleogeografi menggunakan data wireline log dan seismik pada formasi Tanjung, cekungan Barito, Kalimantan Selatan


Oleh : Efrillian Adeghea Rosa

Info Katalog

Nomor Panggil : 1114/TG/2019

Penerbit : FTKE - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2019

Pembimbing 1 : Moeh Ali Djambak

Pembimbing 2 : Firman Herdiansyah

Subyek : Stratigraphic geology

Kata Kunci : Tanjung formation, sequence stratigraphy, facies and depositional environment, paleogeography model


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2019_TA_GL_072001500030_Halaman-Judul.pdf 5632.39
2. 2019_TA_GL_072001500030_Bab-1.pdf 1624.98
3. 2019_TA_GL_072001500030_Bab-2.pdf 10819.53
4. 2019_TA_GL_072001500030_Bab-3.pdf 1708.46
5. 2019_TA_GL_072001500030_Bab-4.pdf 15430.21
6. 2019_TA_GL_072001500030_Bab-5.pdf 887.5
7. 2019_TA_GL_072001500030_Daftar-Pustaka.pdf 1432.76

S Secara fisiografi Formasi penelitian merupakan bagian dari Cekungan Barito yang terletak di Kalimantan Selatan (Van Bemmelen, 1949). Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode sikuen stratigrafi. Data yang digunakan dalam penelitian merupakan integrasi dari: 3 data well log, 2 data biostratigrafi, data core dan petrografi yang berasal dari sumur X pada formasi yang sama sebagai analogi data, dan data seismik 2D. Penelitian dilakukan dengan mengkorelasikan data-data tersebut untuk kemudian dapat diketahui fasies serta lingkungan pengendapan, menghasilkan peta SSR, peta isopach dan model paleogeografi daerah penelitian.Fasies serta lingkungan pengendapan ditentukan dari integrasi data well log, biostratigrafi dan seismik yang kemudian ketiga data tersebut dikorelasikan berdasarkan konsep sikuen stratigrafi. Selain itu, metode sikuen stratigrafi yang dikolaborasikan dengan metode seismik stratigrafi juga dapat digunakan dalam mengetahui distribusi vertikal dan lateral dari asosiasi fasies pada daerah penelitian.Berdasarkan hasil penelitian, Formasi Tanjung, Cekungan Barito memiliki asosiasi fasies yaitu fluvial pointbar, fluvial floodplain, fluvial channel, delta plain, distributary channel, dan mouthbar. Arah pengendapan pada formasi penelitian yaitu dominan baratlaut – tenggara. Sehingga, model paleogeografi pada formasi penelitian dibagi menjadi 2 (dua) model pengendapan berdasarkan marker sikuen stratigrafi. Dari model paleogeografi yang telah dibuat, perubahan lingkungan pengendapan terjadi dari sumur EAR-1 yang merupakan lingkungan fluvial, dan sumur EAR-2 dan EAR-3 yang berupa lingkungan delta. Marker sikuen pada formasi penelitian dibagi menjadi 2 yaitu marker SB 1 – SB 2 dan marker SB 2 – Top Tanjung, dimana pada marker SB 1 – SB 2 memiliki fase pengendapan berupa regresif dan marker SB 2 – Top Tanjung memiliki fase transgresif.

P Physiographycally, formation area of study is part of Barito Basin which located in South Kalimantan (Van Bemmelen, 1949). This study using sequence stratigraphy method. Data which be used in this study are integration of: 3 well log data, 2 biostratigraphy data, core data, and petrography data of well X in the same formation as an analogical data to the study, and 2D seismic data. This study is conducted to do the correlation those datas for determine facies and depositional environment, produced SSR map, isopach map, and paleogeography model of study area.Facies and depositional environment is determined by integration of well log data, biostratigraphy, and seismic which those three datas correlated based on the sequence stratigraphy concept. Moreover, sequence stratigraphy method which collaborated with seismic stratigraphic method can be used to know the vertical and lateral distribution of facies association on the study area.Based on the study result, Tanjung formation, Barito Basin has facies association such as fluvial pointbar, fluvial floodplain, fluvial channel, delta plain, distributary channel, and mouthbar. The depositional direction of study formation is northwest – southeast dominant. Therefore, paleogeography model in study area divide into 2 (two) depositional model based on sequence stratigraphy marker. From paleogeography model, the changes of depositional environment happen from well EAR-1 which is fluvial environment, and well EAR-2 and EAR-3 which are deltaic environment. Sequence marker in study formation divide into 2, SB 1 – SB 2 marker and SB 2 – Top Tanjung, which on SB 1 – SB 2 marker has regressive depositional phase and SB 2 – Top Tanjung has transgressive depositional phase.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?