DETAIL KOLEKSI

Korelasi antara kadar leukosit dan c-reactive protein di diagnostik awal pada pasien pneumonia


Oleh : Savira Felicia

Info Katalog

Nomor Panggil : S 1671

Penerbit : FK - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2020

Pembimbing 1 : Ronald Irwanto Natadidjaja

Subyek : Leukocytes;Pneumonia

Kata Kunci : leukocytes, C-reactive protein, pneumonia


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2020_TA_SKD_03016144_Halaman-Judul.pdf 1012.21
2. 2020_TA_SKD_03016144_Pengesahan.pdf 903.31
3. 2020_TA_SKD_03016144_Bab-1_Pendahuluan.pdf 688.73
4. 2020_TA_SKD_03016144_Bab-2_TInjauan-Pustaka.pdf 722.78
5. 2020_TA_SKD_03016144_Bab-3_Kerangka-Konsep.pdf 610.94
6. 2020_TA_SKD_03016144_Bab-4_Metode-Penelitian.pdf 883.67
7. 2020_TA_SKD_03016144_Bab-5_Hasil-Penelitian.pdf 686.67
8. 2020_TA_SKD_03016144_Bab-6_Pembahasan.pdf 632.12
9. 2020_TA_SKD_03016144_Bab-7_Kesimpulan.pdf 614.07
10. 2020_TA_SKD_03016144_Daftar-Pustaka.pdf 692.32
11. 2020_TA_SKD_03016144_Lampiran.pdf 1803.27

L LATAR BELAKANG Pneumonia merupakan suatu bentuk infeksi saluran pernapasan akut yang terjadi pada organ paru. Insiden dan Prevalensi pneumonia di Indonesia menurut RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2013 adalah 1,8% persen dan 4,5%. Leukosit adalah sel darah putih yang mengandung inti dan memiliki peran sebagai pertahanan seluler dan hormonal terhadap zat-zat asing. Apabila terjadi suatu infeksi bakteri di dalam tubuh seseorang, maka kadar leukosit akan meningkat. C-reactive Protein adalah salah satu protein fase akut non-spesifik yang dihasilkan oleh hati saat terjadi inflamasi di dalam tubuh sebagai reaksi imun non-spesifik yang dapat dijadikan penanda untuk memprediksi adanya suatu infeksi bakteri. Hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk meneliti Korelasi antara Kadar Leukosit dan C-Reactive Protein di Diagnostik Awal pada Pasien Pneumonia. METODE Metode yang digunakan adalah desain potong silang atau cross sectional. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpulan data dalam satu kali ukur dengan responden sebanyak 30 pasien pneumonia di RSAL DR. Mintohardjo, Jakarta Pusat. Data yang didapatkan dianalisis dengan uji korelasi Pearson. HASIL Uji korelasi Pearson antara leukosit dan CRP menghasilkan r = 0,459 dengan nilai kemaknaan 0,011, yang artinya terdapat korelasi derajat sedang yang bermakna antara kadar leukosit dan CRP. KESIMPULAN Terdapat korelasi sedang yang bermakna antara kadar leukosit dengan C-Reactive Protein.

B Background Pneumonia is a form of acute respiratory tract infection occurring in the pulmonary organs. The incidence and prevalence of pneumonia in Indonesia according to RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) 2013 is 1.8% percent and 4.5%. Leukocytes are white blood cells that contain nuclei and have a role as cellular and hormonal defenses against foreign substances. If there is a bacterial infection in a person's body, the rate of leukocytes will increase. C-reactive protein is one of the non-specific acute phase proteins produced by the liver when the inflammation occurs in the body as a non-specific immune reaction that can be used as a marker to predict the presence of a bacterial infection. The statements as mentioned above made researchers interested in researching the correlation between the levels of leukocytes with C-Reactive protein at the beginning of diagnostics in pneumonia patients. Method The method used is cross sectional. This study done by collecting data in one measure with respondents as many as 30 pneumonia patients in RSAL Dr. Mintohardjo, central Jakarta. The data obtained is analyzed by the pearson correlarion test. Results The results of Pearson correlation between leukocytes and CRP, r = 0,459 with a significance value of 0,011, which means they contain moderate levels of correlation between leukocytes and CRP. Conclusion There is a moderate levels of correlation between the levels of leukocytes with C-Reactive Protein

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?