DETAIL KOLEKSI

Pengaruh Kadar Garam Pada Pengolahan Air Kotor Menggunakan Reaktor Lumpur Aktif


Oleh : Galih Panghesti Utami

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2010

Pembimbing 1 : Ratnaningsih

Pembimbing 2 : M. Lindu

Subyek : Activated sludge

Kata Kunci : activated sludge, NaCl, COD.


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2010_TA_STL_08205009_Halaman-judul.pdf 906.26
2. 2010_TA_STL_08205009_Bab-1.pdf 47.98
3. 2010_TA_STL_08205009_Bab-2.pdf 186
4. 2010_TA_STL_08205009_Bab-3.pdf 275.47
5. 2010_TA_STL_08205009_Bab-4.pdf 639.26
6. 2010_TA_STL_08205009_Bab-5.pdf 41.04
7. 2010_TA_STL_08205009_Daftar-pustaka.pdf 28.69
8. 2010_TA_STL_08205009_Lampiran.pdf 595.13

P Proses lumpur aktif merupakan suatu proses pengolahan air limbah secara biologi, dimana air limbah dan lumpur aktif dicampur dalam suatu reaktor atau tangki aerasi. Padatan biologis akan mengoksidasi kandungan zat organik di dalam air limbah secara biologis, yang di akhir proses lumpur aktif akan dipisahkan dengan sistem pengendapan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja reaktor lumpur aktif konvensional terhadap air limbah yang mengandung garam NaCl. Pada penelitian telah dilakukan beberapa tahap perlakuan yakni proses pembenihan, dan aklimatiasi, dalam reaktor “batch” dan running tanpa kadar garam secara kontinyu dengan pengoperasian variasi waktu tinggal 24 jam, 12 jam, 6 jam dan 3 jam. Tahap berikutnya adalah uji kinerja reaktor karena pemberian NaCl dengan variasi konsentrasi 50 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, 1500 ppm, 2000 ppm dan 3000 ppm. Reaktor lumpur aktif konvensional yang digunakan mempunyai volume kerja 20 L. Parameter yang diamati adalah kadar COD influent (SO) dan efluent (S), VSS (X) di tangki aerasi dan sedimentasi. Pada proses pembenihan, bakteri dalam tangki aerasi reaktor “batch” di berikan umpan substrat sukrosa sebanyak 2,84 g/hari. Proses pembenihan berlangsung selama 19 hari dengan konsentrasi VSS awal pada hari ke-1 sebesar 3359,2 mg/l meningkat menjadi 6884 mg/l pada hari ke-19. Pada proses pembenihan ini, COD air limbah awal penambahan substrat dan setelah aerasi 24 jam diukur setiap hari . Air limbah yang mempunyai COD awal 1629 mg/l menurun menjadi 1471 mg/l setelah diaerasi selama 24 jam dan pada hari ke-19 nilai COD menurun tajam menjadi 106 mg/l atau setara dengan penyisihan COD sebesar 91,42 %. Pada tahap aklimatisasi, bakteri hasil pembenihan sebanyak 5 L dicampur dengan 5 L air sungai tercemar dan diaerasi selama 24 jam, kemudian di diamkan , cairan jernih sebanyak 5 liter dibuang kemudian ditambahkan lagi 10 liter air sungai tercemar dan diaerasi lagi selama 24 jam, dan seterusnya jumlah air sungai tercemar yang ditambahkan diperbesar sampai jumlah total dalam reaktor 20 liter, selanjutnya perlakuan dilanjutkan dengan pembuangan cairan jernih hasil aerasi 15 liter dan penambahan air sungai tercemar 15 setiap harinya sampai 7 hari. Konsentrasi VSS meningkat dari 1578 mg/l menjadi 3949 mg/l , sedangkan COD awal turun dari 660 mg/l, dan menurun menjadi 31 mg/l pada hari ke-7 (penyisihan sebesar 82,08 %). Pada tahap running tanpa pemberian NaCl, waktu tinggal yang dioperasikan adalah 24 jam, 12 jam, 6 jam dan 3 jam, dengan debit air limbah masing – masing sebesar 20 l/hr, 40 l/hr, 80 l/hr dan 160 l/hr. Dengan kondisi tersebut, konsentrasi VSS akhir yang dihasilkan masing – masing 3448 mg/l, 3891 mg/l, 3502 mg/l, dan 2900 mg/l. Pada variasi waktu tinggal 24 jam, 12 jam, 6 jam dan 3 jam tersebut didapat nilai penyisihan COD masing – masing 89,78 %, 90,49 %, 87,75 %, dan 88,82 %. Penyisihan COD tertinggi diperoleh pada waktu tinggal 12 jam dengan penyisihan sebesar 90,49 %. Kinetika pertumbuhan mikroorganisme menggunakan nilai hubungan antara S0-S/(X .θc) dengan umur lumpur (θc) yang menghasilkan nilai R2sebesar 0,980 dan Y = 0,467 mg VSS/mg COD. Penelitian dilanjutkan dengan Running pada air limbah yang mengandung garam dengan waktu tinggal yang dioperasikan 12 jam. Konsentrasi garam di variasi pada konsentrasi 50 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, 1500 ppm, 2000 ppm dan 3000 ppm. Hasilnya menunjukkan penyisihan COD tertinggi sebesar 90,35 %, dengan COD awal antara 200 mg/l sampai 250 mg/l.

A Activated sludge process is a process of biological waste water treatment plants, where waste water and sludge are mixed in a reactor or aeration tank. Biological solids content will oxidize organic matter in waste water biologically, which at the end of the activated sludge process will be separated by a depositional system. The purpose of this study is to determine the performance of conventional activated sludge reactor for waste water containing NaCl salt. In the research has been conducted several stages of treatment ie seeding process, and aklimatiasi, in the reactor "batch" and running without a continuous salinity variation with residence time of the operation of 24 hours, 12 hours, 6 hours and 3 hours. The next stage is to test the performance of the reactor because of NaCl with various concentrations of 50 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, 1500 ppm, 2000 ppm and 3000 ppm. Conventional activated sludge reactor used has a working volume of 20 L. Observations were influent COD concentration (SO) and effluent (S), VSS (X) in the aeration and sedimentation tanks. In the seeding process, the bacteria in the aeration tank reactor "batch" in the substrate sucrose to give feedback as much as 2.84 g / day. Seeding process lasted for 19 days with the initial VSS concentration on day 1 of 3359.2 mg / l increased to 6884 mg / l on day 19. At this seeding process, initial COD of waste water and substrate addition after 24 hours of aeration were measured every day. Waste water having initial COD of 1629 mg / l decreased to 1471 mg / l after aeration for 24 hours and on days 19 COD value decreased sharply to 106 mg / l or the equivalent of 91.42% COD removal. In the acclimatization stage, bacterial seeding as much as 5 L 5 L was mixed with contaminated river water and aerated for 24 hours, later in set aside, as much as five liters of clear fluid removed and then added another 10 liters of polluted river water and aerated again for 24 hours, and so on amount of polluted river water is added enlarged to a total of 20 liters in the reactor, then the treatment continued with clear liquid sewage aeration results and the addition of 15 liters of river water is polluted 15 per day up to 7 days. VSS concentration increased from 1578 mg / l to 3949 mg / l, whereas the initial COD decreased from 660 mg / l and decreased to 31 mg / l at day 7 (allowance amounting to 82.08%). At the stage of running without NaCl, which is operated residence time is 24 hours, 12 hours, 6 hours and 3 hours, with discharge of waste water each - each amounting to 20 l / hr, 40 l / hr, 80 l / hr and 160 l / hr. Under these conditions, generated the final VSS concentration, respectively - each 3448 mg / l, 3891 mg / l, 3502 mg / l and 2900 mg / l. At various time staying 24 hours, 12 hours, 6 hours and 3 hours were calculated COD values each respectively 89.78%, 90.49%, 87.75% and 88.82%. The highest COD removal was obtained at 12-hour residence time with allowance for amounted to 90.49%. Growth kinetics of microorganisms using the value of the relationship between the S0-S / (X. Θc) with the sludge age (θc) which resulted in R2 values of 0.980 and Y = 0.467 mg VSS / mg COD. The study followed by Running on waste water containing salt with a residence time which is operated 12 hours. Salt concentration variations in the concentration of 50 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, 1500 ppm, 2000 ppm and 3000 ppm. The results showed the highest COD removal of 90.35%, with an initial COD of 200 mg / l to 250 mg / l.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?