DETAIL KOLEKSI

Prevalensi Kadar Ph Saliva Pada Penderita Stomatitis Aftosa: Kajian Pada Mahasiswa/i Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Angkatan 2010 (laporan Penelitian)

5.0


Oleh : Laura Blessa Rolanda

Info Katalog

Nomor Panggil : 019/KG/2014

Penerbit : FKG - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2014

Pembimbing 1 : drg. Andrian Nova Fitri, Sp.PM.

Subyek : Oral Medicine

Kata Kunci : Stomatitis aftosa, Ph Saliva, Prevalensi


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2014_TA_KG_04010112_lembar-pengesahan-dan-pernyataan.pdf 315.03
2. 2014_TA_KG_04010112_daftar-isi.pdf 102.87
3. 2014_TA_KG_04010112_abstrak.pdf 92.06
4. 2014_TA_KG_04010112_bab-I.pdf 102.59
5. 2014_TA_KG_04010112_bab-II.pdf 231.21
6. 2014_TA_KG_04010112_bab-III.pdf 76.27
7. 2014_TA_KG_04010112_bab-IV.pdf 103.02
8. 2014_TA_KG_04010112_bab-V.pdf 168.74
9. 2014_TA_KG_04010112_bab-VI.pdf 91.5
10. 2014_TA_KG_04010112_bab-VII.pdf 79.01
11. 2014_TA_KG_04010112_daftar-pustaka.pdf 115.97
12. 2014_TA_KG_04010112_lampiran.pdf 368.19

L Latar belakang: Stomatitis Aftosa merupakan salah satu kelainan yang sering ditemukan dalam mukosa mulut dengan pola kejadian yang cukup rekuren. Lesi aphtae ini biasanya dapat sembuh dengan sendirinya (self limited), namun kehadiran stomatitis aftosa sangat mengganggu pada saat proses pengunyahan, bicara, dan membersihkan rongga mulut. Rasa tidak nyaman yang ditimbulkan pada penderita seperti rasa sakit dan rasa terbakar. Saliva selain memiliki peran dalam remineralisasi jaringan keras gigi juga berperan penting dalam memelihara integritas jaringan lunak rongga mulut. Hal ini dicapai dengan kontrol pH saliva. Tujuan: untuk mengetahui kadar pH saliva individu yang menderita stomatitis aftosa. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional pada mahasiswa/i FKG Universitas Trisakti angkatan 2010 yang menderita lesi stomatitis aftosa. Metode: Saliva diambil menggunakan metode spitting ke dalam falcon tube sampai mencapai 3 ml. Subjek tidak diperkenankan makan atau minum 2 jam sebelumnya. Ph saliva kemudian diukur menggunakan pH-Indicator strips 0-14 Macherey-Nagel. Hasil: dari 53 subjek penelitian dengan lesi stomatitis aftosa terdapat 31 orang (58,49%) perempuan dan 22 subjek (41,50%) laki-laki. pH saliva saat menderita stomatitis aftosa sebanyak 17 orang (32,08%) dengan pH =6, sebanyak 23 orang (43,40%) dengan pH =6,5 dan sebanyak 13 orang (24,53%) dengan pH =7. Sedangkan derajat keasaman (pH) saliva setelah lesi tersebut sembuh didapatkan sebanyak 36 orang (67,92%) dengan pH =7, sebanyak 17 orang (32,08%) dengan pH >7, dan tidak ada subjek dengan pH <7. Rata-rata pH saliva saat menderita lesi didapatkan lebih bersifat asam dengan angka 6,472 dimana rata-rata pH saliva setelah sehat adalah 7,160. Kesimpulan: pH saliva pada penderita stomatitis aftosa lebih rendah (asam) dari pH saliva individu sehat.

B Background: Apthous Stomatitis is one of the most common type of lesion found in the oral mucosa, with a tendency of reacurring. This apthae lesion usually heals on its own (have a self limited course), but its existance can be very interfiering with mastication, speech, and in cleaning the oral area. Feeling of discomfort in these patients are expressed as pain and burning sensation. Saliva takes part not only in teeth remineralisation but also has an important role in maintaining the integrity of the oral mucosa. Thus, achived by controlled salivary pH. Objective: to understand the salivary pH in individuals suffering from apthous stomatitis. Method: this research used an observational method with subjects from Trisakti University dentistry students class of 2010, who currently suffered from apthous stomatitis. Sample saliva was obtained by spitting into a falcon tube, to a total 3 ml. Subjects were not allowed to eat or drink 2 hours prior saliva collection. Salivary pH then was measured using Macherey-Nagel pH-Indicator strips range 0-14. Result: from a total of 53 subjects in this study, 31 subjects (58,49%) were female and 22 subjects (41,50%) were male. Salivary pH of apthous stomatitis patient found in 17 subjects (32,08%) =6, in 23 subjects (43,40%) =6,5 and in 13 subjects (24,53%) =7. On the other hand, salivary pH of the same subjects after the apthae was healed, found in 36 subjects (67,92%) =7, in 17 subjects (32,08%) >7, and none were found with a pH <7. The mean salivary pH on patients with active apthous stomatitis were 6,472, where as mean salivary pH after the lesion healed was 7,160. Conclusion: salivary pH of apthous stomatitis patients was lower (more towards acidic) than salivary pH found in healthy individuals.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?