DETAIL KOLEKSI

Penerapan Geostatstika Pada Estimasi Sumberdaya Tembaga Di Batu Hijau Kab Sumbawa Barat Propinsi Nusa Tengara Barat


Oleh : Surya Putra Badarudin

Info Katalog

Nomor Panggil : 308/TT/2016

Penerbit : FTKE - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2016

Pembimbing 1 : Chairul Nas

Pembimbing 2 : Irfan Marwanza

Subyek : Geostatistika

Kata Kunci : Tembaga porfiri, Variogram, Kriging, Klasifikasi sumberdaya, RKSD


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2016_TA_TB_07312170_Halaman-Judul.pdf 3608.14
2. 2016_TA_TB_07312170_BAB-1.pdf 433.98
3. 2016_TA_TB_07312170_BAB-2.pdf 1885.1
4. 2016_TA_TB_07312170_BAB-3.pdf 1553.98
5. 2016_TA_TB_07312170_BAB-4.pdf 764.52
6. 2016_TA_TB_07312170_BAB-5.pdf 2052.03
7. 2016_TA_TB_07312170_BAB-6.pdf 499.82
8. 2016_TA_TB_07312170_BAB-7.pdf 475.99
9. 2016_TA_TB_07312170_Daftar-Pustaka.pdf 277.14
10. 2016_TA_TB_07312170_Lampiran-A.pdf 908.77
11. 2016_TA_TB_07312170_Lampiran-B.pdf 553.86
12. 2016_TA_TB_07312170_Lampiran-C.pdf 2545.93

E Endapan tembaga porfiri merupakan salah satu penyumbang terbesar dari mineral penghasil tembaga beserta mineral ikutan lainnya seperti emas dan perak. Keberadaannya di bawah permukaan bumi juga tidak teratur (disorder) serta penyebarannya tidak selalu menerus. Sehingga kriging merupakan estimator yang cocok untuk mengestimasi endapan bijih yang tidak beraturan karena sifatnya yang BLUE (Best Linear Unbias Estimator). Endapan tersebut salah satunya dijumpai di Batu Hijau kab Sumbawa Barat, provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada daerah tersebut terdapat litologi tonalit intermediet yang ingin diketahui variasi spasial, jumlah sumberdaya, dan klasifikasi sumberdayanya. Untuk mengetahuinya variasi spasial, digunakan variogram sebagai alat yang dapat menampilkan variasi tersebut dengan menggunakan suatu persamaan matematis yang diplot pada grafik x,y dan dimodel berdasarkan metode spherical sehingga diketahui parameter berupa nugget effect (C0), sill (C), dan range (a). Sedangkan untuk estimasi kadar pada litologi tersebut menggunakan metode kriging dimana perhitungan bobotnya berdasarkan jarak dan variasi spasial antar data serta data itu sendiri. Kemudian untuk klasifikasi sumberdaya menggunakan metode relative kriging standard deviation (RKSD). Jumlah data yang digunakan merupakan data composite dari gabungan per lima belas meter data assay lubang bor dengan jumlah 1123 titik sampel. Dari hasil pengolahan data, diketahui variasi spasial kadar tembaga di Batu Hijau sehingga dihasilkan area pencarian data yang berbentuk bola. Hasil cross validation menunjukkan variogram eksperimental yang dibuat cukup baik dan memenuhi akronim “BLUE” untuk digunakan oleh perhitungan kriging. Hasil estimasi dengan metode kriging didapatkan kadar tiap blok bervariasi mulai dari 0,2 persen hingga 1,5 persen dengan jumlah tembaga keseluruhan sebanyak 3,4 juta ton dan nilai kriging varians tiap blok bervariasi mulai dari 0,05 hingga 0,16. Sedangkan klasifikasi sumberdaya dengan RKSD menghasilkan sumberdaya terukur sebanyak ±700 ton, sumberdaya tertunjuk ±400 ribu ton, dan sumberdaya tereka ±3 juta ton. Dari hasil penelitian yang dilakukan, masih perlunya penambahan lubang bor sehingga titik-titik sampel lebih banyak dan dapat meningkatkan kepercayaan geologi yang pada akhirnya akan meningkatkan jumlah sumberdaya terukur maupun tertunjuk.

P Porphyry copper deposit is one of the most source of copper minerals and associated minerals with other mineral that contain gold and silver. The existence of copper in earth crust is disorder and the spread is not always continuing. Therefore, kriging is suitable estimator for estimate disorder ore deposit because of its “BLUE” character. One of porphyry deposit is located at Batu Hijau, West Sumbawa, West Nusa Tenggara province. There is intermediate tonalite lithology at Batu Hijau that will calculate its spatial variation, resource tonnage, and resource classification. Variogram is used to know the spatial variation from geological data with mathematic function that plotted on a x,y graph, afterwards the variogram is modeled with spherical method to know three parameters that consist nugget effect (C0), sill (C), and range (a). Meanwhile for grade estimation in intermediate tonalite lithology using kriging method which the weight calculation based on space and spatial variation between sample and sample itself. Relative kriging standard deviation (RKSD) is used to classify its resource. The amount of data that being used are composite data based on fifteen meters’ assay data from 1123 sample point. From calculation, spatial variation of copper grade at Batu Hijau is known which the searching area would be a ball. From cross validation calculation, the experimental variogram is good enough and fulfill “BLUE” character for used in kriging. The estimation with kriging method resulting copper grade that vary from 0.2 percent to 1.5 percent with tonnage of copper approximately 3,4 million ton and kriging variance vary from 0.05 to 0.16. From RKSD calculation, the resource classification for measured is 700 tons, indicated is 400 thousand tons, and inferred is 3 million tons. From this research, addition of drill hole is necessary to increase geological confident so measured and indicated resource will be rising.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?