DETAIL KOLEKSI

Penentuan Karekteristik Batuan Tudung Bedasarkan Analisis Alterasi Hidrotermal Pada Daerah Panas Bumi 'x'propinsi Jawa Barat


Oleh : Elkanah Amaresi

Info Katalog

Nomor Panggil : 719/TG/2016

Penerbit : FTKE - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2016

Pembimbing 1 : Fajar Hendrasato

Pembimbing 2 : Nani Aldila

Subyek : Geothermal

Kata Kunci : panas bumi, batuan tudung


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2015_TA_GL_07210022_HALAMAN-JUDUL.pdf 913.12
2. 2015_TA_GL_07210022_BAB-1.pdf 511.34
3. 2015_TA_GL_07210022_BAB-2.pdf 902.32
4. 2015_TA_GL_07210022_BAB-3.pdf 833.25
5. 2015_TA_GL_07210022_BAB-4.pdf 3158.1
6. 2015_TA_GL_07210022_BAB-5.pdf 1867.83
7. 2015_TA_GL_07210022_BAB-6.pdf 265.09
8. 2015_TA_GL_07210022_DAFTAR-PUSTAKA.pdf 11.75
9. 2015_TA_GL_07210022_LAMPIRAN.pdf 2494.64

D Daerah panasbumi “X” terletak di provinsi Jawa Barat merupakan daerah dengan sistem panasbumi relief tinggi yang memiliki unsur sistem panasbumi yang lengkap, salah satunya adalah batuan tudung. Batuan tudung merupakan formasi batuan impermeabel yang dapat menghambat fluida panasbumi untuk lolos secara vertikal ke permukaan dan merupakan salah satu unsur penting dalam suatu sistem panasbumi berelief tinggi. Litologi penyusun batuan tudung ini adalah produk vulkanik Kuarter berupa tefra lapilli, tuf, breksi tufan, breksi andesit, dan andesit. Berdasarkan zonasi alterasi hidrotermal, batuan tudung wilayah panasbumi “X” disusun oleh zonasi alterasi smektit-kaolinit-halloysit-silika yang sebanding dengan zona alterasi argilik dan zona alterasi smektit-illit-klorit-kuarsa yang sebanding dengan zona alterasi propilitik luar. Zona alterasi smektit-kaolinit-halloysit-silika terbentuk pada temperatur 120-200°C dengan lingkungan pembentukan bersifat asam, sedangkan zona alterasi smektit-illit-klorit-kuarsa terbentuk pada temperatur 180-250°C dengan lingkungan pembentukan bersifat asam sampai netral (Corbett dan Leach, 1997). Batuan tudung daerah panasbumi “X” tidak sepenuhnya impermeabel hal tersebut disebabkan oleh ditemukannya banyak mineral sekunder berupa hematit sebagai hasil ubahan dari ferromagnesian pada matriks dan gelas vulkanik. Terdapat juga anomali geometri pada batuan tudung berupa penipisan ketebalan yang dengan arah orientasi timur-timurlaut.

A ABSTRACT The “X” geothermal area is located in West Java Province, which is a geothermal area with high terrain geothermal system that has all the elements of a complete geothermal system, one of which is the cap rock. Cap rock is an impermeable rock formations that can block the geothermal fluids to pass vertically to the surface and is one of the important elements in a high terrain geothermal system. The cap rock of this particular geothermal system is consist of Quaternary volcanic rocks and materials, which is lapillic tephra, tuff, tuffaceous breccia, andesite breccia, and andesite. Based on the zoning of the hydrothermal alteration, the “X” cap rock consist of smectite-kaolinite-halloysite-silica alteration zone comparable with argilic alteration zone and illite-smectite-chlorite-quartz alteration zone, which is comparable to outer propylitic alteration zone. The smectite-kaolinite-halloysite-silica alteration zone is formed at temperatures of 120-200°C with chemically acidic forming environment, while the illite-smectite-chlorite-quartz alteration zone is formed at temperatures of 180-250°C with chemically neutral forming environment (Corbett and Leach, 1997). The “X” cap rock is not completely impermeable because of the abundance of hematite as an alteration product of the rock matrix, ferromagnesian, and volcanic glass, it is an indicator of ground water influx in the cap rock formation. There is also an anomaly on the cap rock’s geometry, which is the thinning of the clay cap trending east to northeast.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?