DETAIL KOLEKSI

Pengolahan Limbah Minyak Goreng Bekasi Sebagai Bahan Bakar


Oleh : Antonius Angga Wicaksono

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2008

Pembimbing 1 : Edison E.

Pembimbing 2 : Mawar D.S.

Subyek : Biofuel;Waste product as fuel

Kata Kunci : waste vegetable oil, biofuel, acids esterification, transesterification, flash point


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2008_TA_STL_08203004_Halaman-Judul.pdf 1243.68
2. 2008_TA_STL_08203004_Bab-1.pdf 727.71
3. 2008_TA_STL_08203004_Bab-2.pdf 1709.39
4. 2008_TA_STL_08203004_Bab-3.pdf 802.62
5. 2008_TA_STL_08203004_Bab-4.pdf 1473.84
6. 2008_TA_STL_08203004_Bab-5.pdf 664.81
7. 2008_TA_STL_08203004_Daftar-Pustaka.pdf 655.98
8. 2008_TA_STL_08203004_Lampiran.pdf 2761.23

B Biodiesel merupakan bahan bakar yang tersusun dari berbagai macam ester asam lemak yang dapat diproduksi dari minyak-minyak tumbuhan seperti minyak sawit (palm oil), minyak kelapa, minyak jarak pagar, dan minyak biji kapok randu. Bahan baku untuk pembuatan biodiesel ini berasal dari minyak goreng bekas pakai (minyak jelantah) atau WVO (waste vegetable oil) yang merupakan limbah yang dihasilkan dalam kehidupan sehari - hari. Setiap limbah yang dihasilkan termasuk limbah minyak goreng harus dikelola dengan baik, untuk mencegah dampak negatif yang dapat ditimbulkan terhadap makhluk hidup dan lingkungan di sekitarnya. Dengan memanfaatkan kembali minyak goreng bekas (waste vegetable oil) menjadi bahan bakar dan ramah lingkungan, diharapkan dapat mencegah dampak negatif dari limbah minyak goreng. Proses produksi biodiesel menggunakan bahan baku yang memiliki kandungan asam lemak >5%, dapat dilakukan dengan 2 tahap, yaitu proses esterifikasi menggunakan katalis asam H2S04 dan proses transesterifikasi menggunakan katalis basa NaOH. Proses pengolahan limbah biodiesel dimulai dengan melakukan tes pendahuluan FFA (Free Fatty Acid). Kemudian dilakukan proses esterifikasi asam dengan variasi konsentrasi H2S04(0.5%, 1 %, 1.5%,2%), konsentrasi metanol (10%,15%,20%,25%), variasi temperatur (30°, 45°, 60°, 65°C),dan variasi waktu reaksi 60, 90, 120 menit. Proses berikutnya adalah transesterifikasi dengan variasi konsentrasi NaOH (0.5%, 1 %, 1.5%, 2%), konsentrasi metanol (10%,15%,20%,25%), variasi temperatur (30°, 45°, 60°, 65°C), dan variasi waktu reaksi60, 90, 120 menit. Produk didiamkan untuk pemisahan metil ester dan gliserol. Kemudian dilakukan pengujian kualitas berupa uji titik nyala dengan basil esterifikasi asam yangterbaik ada pada konsentrasi metanol 10% dengan katalis basa I% yaitu sebesar 58°C, dan pada konsentrasi metanol 20% dengan katalis asam 0.5% yaitu sebesar 54°C. Uji titik nyala untuk basil proses Transesterifikasi metanol 10% dengan katalis basa 1 % yaitu sebesar 38°C, dan pada konsentrasi metanol I 5% dengan katalis basa 1 % yaitu sebesar38°C. Kemudian dilakukan penentuan pembentukan metil ester dari proses transesetrifikasi dengan konsentrasi metanol berturut-turut 10%, 15%, dan 20% dengan basil pembentukan metil ester 96.82%, 96.39%,dan 95.91%. Dari basil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa minyak goreng bekas dapat diolah menjadi biofuel dengan metode esterifikasi dan tranesterifikasi

T The raw material used for producing this biofuel is waste vegetable oil (WVO). Every waste that produced have to be managed for reducing the negative impact to avoid environment's contamination. The process of reusing the waste vegetable oil as the raw material for producing biofuel can prevent the negative impact given by WVO. The first test conducted for making biofuel is by measuring the free fatty acids number (FFA). Test result shown that FFA number of this WVO was 15%. The production process of biofuel that have fatty acid> 5% divided into 2 stage, first is esterification process using acid catalyst (H2S04) and second is transesterification process using base catalyst (NaOH). The esterification process is done under acid condition with varied H2S04 concentration (0.5%, 1 %, 1.5%, 2%), varied methanol concentration (10%, 15%, 20%, 25%), varied temperature (30°, 45°, 60°, 65°C), and varied retention time are 60, 90, 120 minutes. The next process is transesterification with varied NaOH concentration (0.5%, 1 %, 1.5%,2%), varied methanol concentration (10%, 15%, 20%, 25%), varied temperature (30°, 45°,60°, 65°C), and varied retention time are 60, 90, 120 minutes. The transesterification process separates the methyl esters from the glycerin. The best two quality of flash pointtest from the esterification process are on methanol 10% with base catalyst 1 % (58°C)and on methanol 20% with acid catalyst 0,5% (54°C). The best two quality of flash point test from the transesterification are on methanol 10% with base catalyst 1 % (38°C) and on methanol 15% with base catalyst 1 % (38°C). The determination of forming the methylester by transesetrification process conducted by using methanol concentration 10%,15%, and 20% had result forming the methyl ester are 96.82%, 96.39%,dan 95.91%. Based on this research, WVO can be treated as biofuel using esterification and transesterification methods.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?