DETAIL KOLEKSI


Evaluasi Menaggulangan Masalah Kehilangan Lumpur Pada Trayek Lubang 8â½" Di Sumur Hx-1 Lapangan Tanjung


Oleh : Simon Septrian

Info Katalog

Nomor Panggil : 656/TP/2017

Penerbit : FTKE - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2017

Pembimbing 1 : Abdul Hamid

Pembimbing 2 : P. Simorangkir

Subyek : Drilling wells;Loss circulation

Kata Kunci : Tanjung field, vertical wells, mud


File Repositori
No. Nama File Ukuran Status
1. 2017_TA_TM_07110256_Halaman-judul.pdf 956.02 (KB)
2. 2017_TA_TM_2017_07110256_-Bab-1.pdf 2205.11 (KB)
3. 2017_TA_TM_2017_07110256_-Bab-2.pdf 437.85 (KB)
4. 2017_TA_TM_2017_07110256_-Bab-3.pdf 226.07 (KB)
5. 2017_TA_TM_2017_07110256_-Bab-4.pdf 77 (KB)
6. 2017_TA_TM_2017_07110256_-Bab-5.pdf 67.68 (KB)
7. 2017_TA_TM_07110256_Daftar-pustaka.pdf 67.45 (KB)
8. 2017_TA_TM_07110256_Lampiran.pdf 220.52 (KB)

L Lapangan Tanjung terletak di provinsi Kalimantan Selatan pada koordinat115° - 115° 20’ 12’’ BT dan 2° 22’ 50’’ - 2° 40’ 10’’ LS, kira-kira berjarak 240 Kmdisebelah Utara kota Banjarmasin. Lapangan Tanjung ini adalah lapangan tua yangmasih terus dikembangkan. Sumur HX-1 adalah sumur vertical (tegak) yang dibordari tanggal 24 Oktober 2010 sampai 20 Desember 2010, dengan total kedalaman1440 mku.Permasalahan yang di jumpai pada pemboran sumur ”HX-1” adalahkehilangan lumpur total pada lubang 8-½” di interval 1265 mku - 1273 mku (8 m)laju kehilangan sebesar 4.2 bpm. Total lumpur yang hilang adalah sebanyak 252bbl. Upaya penanggulangan dilakukan dengan mencoba menggunakan LCMsebanyak empat kali pencampuran dengan konsentrasi berbeda yaitu 40 ppb dan 80ppb. Namun belum berhasil mengatasi masalah itu secara tuntas, tapi upaya ituhanya mampu memperkecil laju kehilangan lumpur menjadi 2.1 bpm.Pada kondisi ini, lalu pemboran dilanjutkan dari kedalaman 1273 mku – 1275 mku(1 m) laju kehilangan lumpur meningkat menjadi 2.2 bpm dan jumlah lumpur yanghilang adalah sebesar 66 bbl. Upaya penanggulangan dilakukan adalah dengan carayang sama yaitu menggunakan LCM sebanyak tiga kali pencampuran dengankonsentrasi yang sama yaitu 80 ppb, walaupun masalah kehilangan lumpur belumdapat teratasi dengan baik, kegiatan pemboran tetap dilanjutkan. Pada saat membordari kedalaman 1275 mku – 1292 mku tidak terjadi kehilangan lumpur dan adasirkulasi kepermukaan.Namun pada saat meneruskan pemboran dari kedalaman 1292 mku – 1305 mku (13m) terjadi lagi masalah kehilangan lumpur dengan laju alir 2.2 bpm dan jumlahkehilangan lumpur yang terjadi adalah sebesar 66 bbl. Upaya penanggulanganiidilakukan dengan menggunakan LCM sebanyak dua kali pencampuran dengankonsentrasi yang sama seperti sebelumnya yaitu sebesar 80 ppb. Upaya penangananinipun tidak mampu mengatasi masalah kehilangan lumpur tersebut, namun hanyamengurangi laju kehilanngan lumpurnya.Akhirnya pihak management memutuskan untuk menanggulangi masalah tersebutdengan cara menyumbat zona loss itu dengan menggunakan semen kelas ”G”sebanyak 63 sak yang di lakukan pada interval 1268 mku – 1310 mku. Setelahpekerjaan penyemenan tersebut selesai, akhirnya masalah kehilangan lumpur itudapat diatasi.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada sumur tersebut diperolehprosedur penanggulangan yang tepat, yaitu dengan menggunakan kelas ”G” semen.Diharapakan teknik penanggulangan masalah kehilangan lumpur di sumur ”HX-1”ini dapat diterapkan pada pekerjaan pemboran sumur berikutnya yang akan dibordi lapangan Tanjung. Sehingga kegiatan operasi pemboran dapat berjalan denganlancar dan efektif.

T Tanjung field is located in South Kalimantan province at coordinates115° - 115° 20 \'12\'” east arc and 2° 22\' 50 \'\' - 2° 40 \'10\' south latittude, approximately240 Km north of Banjarmasin City. Tanjung field is an mature field which is stillbeing developed. The well HX-1 is a vertical well which were drilled from October24, 2010 until December 20, 2010, with a total depth 1440 MD.The problems encountered in drilling wells \"HX-1\" is total loss of mud inhole 8-½ \"in the interval 1265 MKU - 1273 MKU (8 m) with loss rate as much as4.2 bpm. Total mud that lost was 252 bbl. Prevention efforts is made by trying to useLCM four times by mixing different concentration, 40 ppb and 80 ppb. It can notsolve the problem completely, but only able to reduce loss rate to 2.1 bpm.In that condition, The drilling s continued from depth 1273 MKU - 1275MKU (1 m) with mud loss rate increased to 2.2 bpm and the amount of mud that lostis 66 per bbl. Prevention efforts are made by the same way which is mixing LCMthree times with concentration 80 ppb, although mud loss problems can not be hadledproperly, drilling activities continued. At the time of drilling in 1275 MKU - 1292MKU, mud loss is not happen and there is surface circultion.However, when drilling depth of 1292 MKU - 1305 MKU (13 m) occursproblem of mud loss with a flow rate 2.2 bpm and the amount of mud loss that occursis 66 per bbl. Prevention efforts is done by mixing LCM twice with the sameconcentration as before which is 80 ppb. This efforts can not handle the mud lossonly able to reduce lost circulation rate.Finally, the management decided to handle the problem by clogging the losszone using cement grade \"G\" as many as 63 sacks which were done in intervalsiv1268 - 1310 MKU. After cementing job is completed, lost circulation problems can beovercome.Based on study that has been done on these wells, concluded obtainedappropriate mitigation procedures, namely by using a class \"G\" cement. It is hopedthat the technique overcoming the problem of losing the mud in the well \"HX-1\" canbe applied to the subsequent drilling work to be drilled in the field headland. So thatdrilling operations can proceed smoothly and effectively.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?