DETAIL KOLEKSI

Perancangan Lansekap Area Rekreasi Situ Kelapa Dua Tangerang


Oleh : Citra Nova Dwivianty

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2006

Pembimbing 1 : Quintarina Uniaty

Pembimbing 2 : Hinijati Wijaya

Subyek : Landscape design - Recreation area

Kata Kunci : Situ Kelapa Dua, landscape interpreatation.


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2006_TA_SAL_08101012_Halaman-judul.pdf 1179.06
2. 2006_TA_SAL_08101012_Bab-1.pdf 605.18
3. 2006_TA_SAL_08101012_Bab-2.pdf 2213.01
4. 2006_TA_SAL_08101012_Bab-3.pdf 1865.65
5. 2006_TA_SAL_08101012_Bab-4.pdf 438.5
6. 2006_TA_SAL_08101012_Bab-5.pdf 2527.3
7. 2006_TA_SAL_08101012_Bab-6.pdf 1272.4
8. 2006_TA_SAL_08101012_Daftar-pustaka.pdf 223.83
9. 2006_TA_SAL_08101012_Lampiran.pdf 20985.39

K Kawasan Situ Kelapa Dua seluas 29,3 Ha, dengan luas daratan 13,8 Ha dan luas perairan 15,4 Ha, yang berlokasi di Kelurahan Kelapa Dua - Kabupaten Tangerang mempunyai asset sumber daya alam yang masih alami dan belum dimanfaatkan secara optimal keberadaanya. Situ kelapa Dua sebagai salah satu daerah yang ditetapkan oleh Pemda Kabupaten Tangerang sebagai daerah resapan dan hutan kota, dan akan dikembangkan sebagai area rekreasi ini, telah mengalami penurunan kondisi fisik dan visualnya, yaitu pertumbuhan gulma air dan terjadinya pendangkalan badan air.Permasalahan utama yang terdapat pada tapak adalah bentuk ruang padatapak yang terbagi menjadi dua akibat bentangan Situ yang memanjang pada arah• Utara - Selatan, erosi serta pendangkalan tepian Situ, serta kurangnya optimalisasisarana pendukung kegiatan rekreasi. Untuk meningkatkan kualitas dan fungsi tapak yang ingin dicapai serta untuk menjaga kelestarian dan menonjolkan potensi tapak yang ada maka perlu dilakukan sebuah perencanaan penataan kawasan yang meliputi berbagai fungsi, yaitu fungsi fisik, meningkatkan dan mempertahankan potensi dan kualitas Situ Kelapa Dua, fungsi sosial sebagai area rekreasi serta fungsi ekologi sebagai habitat berbagai satwa dan daerah resapan air.Pengembangan guna lahan Situ Kelapa Dua dilakukan dengan mengambil pendekatan berdasarkan interpretasi lansekap yang dibangun yaitu Landscape as Place (Lansekap sebagai tempat), fungsi tapak sebagai area rekreasi serta tema perancangan harmonisasi alam dan budaya. Selain itu dalam pengembangan tapak dilakukan evaluasi masterplan dan analisis tapak, yang menggunakan beberapa aspek sebagai dasar pertimbangan utama, yaitu aspek ekologi, estetika, kultural, kegiatan ruang, serta standar teknis.Evaluasi masterplan dan analisis pengembangan tapak didukung oleh teori-teori perencanaan - perancangan, yaitu Genius loci : Spirit of place, Spatialiifeeling, Form organization, air dalam elemen disain, dan teori circulation as spatial experience. Yang diterapkan kedalam aktivitas rekreasi ruang luar, pengembangan tepian Situ, kriteria hutan kota dan habitat satwa, dengan tautannya yaitu iklim, tanah, topografi, aksesibilitas, sosial-budaya-ekonomi.Konsep dasar yang dipergunakan pada proses perancangan, yaitu peningkatan kualitas dan fungsi tapak sebagai hutan kota, daerah resapan, dan area rekreasi, serta meningkat makna ruang pada tapak menjadi places melalui hannonisasi unsur-unsur alam dan budaya. Pengembangan konsep diJakukan dengan memperhatikan basil evaluasi masterplan dan analisis tapak, mengkombinasikan antara keseimbangan kebutuhan akan sarana serta fasilitas berekreasi dan sumber daya alam yang tersedia dengan pertimbangan kondisi eksistensi tapak sesuai dengan tujuan perancangan, sebagai basil analisis rancangan. Sehingga diharapkan dapat terwujud area rekreasi yang tidak hanya indah secara visual namun juga dapat memberikan kesan, kenyamanan dankeamanan bagi pemakai tapak.

S Situ Kelapa Dua Cipondoh Area of 29.3 acre, with the land area of 13.8 Ha and water area of 15.4 Ha, which located on the Kelurahan Kelapa Dua• Kabupaten Tangerang, have a natural resource as an asset which has not been optimally used. Situ Kelapa Dua as one of the areas that has been settled by the Government of Tangerang Municipality (Kabupaten Tangerang) as the absorption and forest city area, will be developed as a recreation area, has experienced a physical and visual condition, which is the Gulma Water and the occurrence of water lowering.The main issue exists in the path is the area shape on the path whichdivided into two, due to the Situ that lies towards the North-South, erosion and tepian Situ water lowering, and also the lack of maximization of supportive facilitation of recreation activities. In order to increase the quality and function of the path that attempted to be achieved, and also to reserve the natural resource and to exposing the potential of the path, thus, it is required to make an area planning which consists several function, such as Physical function, to increase and to maintain the potential and quality of Situ Kelapa Dua, and social function as the recreation area, and also the ecology function as the habitant of all animals and water absorption area.Development of Situ Kelapa Dua area was implemented by applying an approach based on the landscape interpretation which has been built, such as Landscape as Place, path function as the recreation area and also the natural and culture harmony planning theme. Despite that, in the path development, will be implemented an evaluation towards the master plan and path analysis, which used several aspects as the main consideration basis, such as : ecology, esthetic, cultural, scope activity, an technical standard.Evaluation towards the master plan and the analysis of path development, also supported by theories of planning, such as : Genius Loci: Spirit of Place, Spatial feeling, Form organization, water in the design element, and theory of circulation as the spatial experience. What was applied into the recreation activity of outer space, development of Situ area, criteria of city forest and animal habitant, and related to climate, land, topography, access, socio-culture-economic.Basic concept that was used on the design process is the quality enhancement and path function as the city forest, absorption area, and recreation area, and also enhancing the scope of area into places through harmony of natural and cultural elements. Concept development was implemented by considering the result of the evaluation towards master plan and the path analysis, combination between the adequacies of facilities requirements of a recreation area and natural resource with the consideration of existential of path condition accorded to the planning aim, as the result of planning analysis. Thus, it was expected the establishment of recreation area, not just beautiful visually, but also created an image, comfort ness and security for the path users.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?