DETAIL KOLEKSI

Analisis Trend Konsentrasi Particulate Matter 10 (pm10) Pada Udara Ambien Kota Jakarta Dan Palembang


Oleh : Intan Agustine

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2017

Pembimbing 1 : Endro Suswantoro

Pembimbing 2 : Endro Suswantoro

Subyek : Air - Ambient air - Jakarta;Air - Ambient air - Palembang;Ambient air - Analysis - PM10 consentration

Kata Kunci : open air, meteorological, Jakarta, Palembang


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2017_TA_TL_082001300021_Halaman-judul.pdf 2573.89
2. 2017_TA_TL_082001300021_Bab-1.pdf 201.15
3. 2017_TA_TL_082001300021_Bab-2.pdf 723.71
4. 2017_TA_TL_082001300021_Bab-3.pdf 885.23
5. 2017_TA_TL_082001300021_Bab-4.pdf 5089.07
6. 2017_TA_TL_082001300021_Bab-5.pdf 268.15
7. 2017_TA_TL_082001300021_Daftar-pustaka.pdf 387.56
8. 2017_TA_TL_082001300021_Lampiran.pdf 4914.55

P Partikulat merupakan salah satu parameter pencemar udara utama yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Partikulat yang berukuran kurang dari 10 mikrometer (particulatte matter 10) bersifat inhalable dan berpotensi masuk ke dalam sistem pernafasan manusia. Fluktuasi jumlah hari baik menurut Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Jakarta dan jumlah kasus penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) Kota Palembang mengindikasikan adanya perubahan konsentrasi particulate matter 10 (PM10). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis trend konsentrasi PM10 pada udara ambien Kota Jakarta dan Palembang dan meliputi tiga cakupan analisis yaitu analisis kecenderungan temporal, pengaruh faktor meteorologi dan dispersi spasial. Analisis ini didasarkan pada metode statistika menggunakan function-function dalam Model openair. Terjadi penurunan trend konsentrasi PM10 yang tidak signifikan di Kota Jakarta sebesar -6,14 µg/m3 pertahun dan yang signifikan di Kota Palembang sebesar -30,25 µg/m3 pertahun. Nilai konsentrasi PM10 harian tertinggi Kota Jakarta (150,6 µg/m3) dan Palembang (606,0 µg/m3) telah melebihi baku mutu udara ambien nasional (150 µg/m3). Paparan PM10 cenderung lebih tinggi terjadi di Kota Palembang daripada di Kota Jakarta dengan potensi dampak lebih berbahaya di Kota Palembang seperti gangguan sistem pernafasan manusia. Nilai koefisien determinasi (R2 < 0,35) hasil analisis regresi linear menunjukkan bahwa tidak ditemukannya pengaruh faktor meteorologi (curah hujan, kelembaban udara, kecepatan angin) terhadap konsentrasi PM10 di Kota Jakarta maupun Palembang. Sumber pencemar PM10 dominan diperkirakan berasal dari debu jalan dan debu tanah untuk Kota Jakarta serta dari debu jalan, debu tanah, sarana transportasi dan emisi industri untuk Kota Palembang dengan arah angin dominan dari timur-tenggara (musim kemarau) dan barat-barat laut (musim hujan). Atas dasar itu, direkomendasikan pencegahan berupa program pengelolaan transportasi, pelaksanaan reboisasi, pelarangan pembakaran sembarangan, penegakan regulasi berupa baku mutu udara ambien dan emisi, serta penerapan cleaner production.

P Particulate is one of the main air pollutants and very harmful to human and environment. Particulate less than 10 micrometers (particulatte matter 10) are inhalable which has high potential to enter human respiratory system. Fluctuations in the number of Air Quality Index’s good days of Jakarta and in the cases of upper respiratory tract infection of Palembang indicate a change in trend of particulate matter 10 (PM10) concentration. The purpose of this study is to analyze the trend of PM10 concentration in the ambient air of Jakarta and Palembang which is included 3 sections: temporal trend, meteorological factors and spatial dispersion. These analyzes are done based on statistical methods using functions in the openair Model. There were a non-significant trend decreased in PM10 concentration in Jakarta (-6,14 μg/m3/year) and significant trend decreased in Palembang (-30,25 μg/m3/year). The highest daily PM10 concentration of Jakarta (150,6 μg/m3) and Palembang (606,0 μg/m3) had exceeded the Indonesia’s ambient air quality standard (150 μg/m3). Exposure of PM10 was higher in Palembang than Jakarta along with more harmful impacts such as human respiratory system disorders. The determination coefficient (R2 <0,35) of linear regression showed that no correlation was found between the meteorological factors (rainfall, humidity, wind velocity) and PM10 concentration in both Jakarta and Palembang. The dominant source of PM10 is estimated to come from road dust and soil dust for Jakarta; and from road dust, soil dust, transportation and industrial emissions for Palembang with dominant wind direction from east-southeast (dry season) and west-northwest rain. The recommendation of PM10 exposure prevention can be done by transportation management program, reforestation implementation, banning arbitrary burning, enforcement of regulation in the form of ambient air quality standard and emission, and application of cleaner production.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?