DETAIL KOLEKSI

Analisis Perancangan Lapangan Penumpukan Peti Kemas Pelabuhan Di Kawasan Ketapang, Kalimantan Barat

5.0


Oleh : Viscal B. R. Z. Ibrahim

Info Katalog

Penerbit : FTSP - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2018

Pembimbing 1 : Suwandi Saputro

Subyek : Port - Planning design;Stacking field - Architecture

Kata Kunci : berth occupancy ratio, yard occupancy ratio, container stacking field


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2018_TA_TS_051001400103_Halaman-judul.pdf 1793.2
2. 2018_TA_TS_051001400103_Bab-1.pdf 813.57
3. 2018_TA_TS_051001400103_Bab-2.pdf 1829.32
4. 2018_TA_TS_051001400103_Bab-3.pdf 1440.69
5. 2018_TA_TS_051001400103_Bab-4.pdf 2219.43
6. 2018_TA_TS_051001400103_Bab-5.pdf 804.19
7. 2018_TA_TS_051001400103_Daftar-pustaka.pdf 594.63
8. 2018_TA_TS_051001400103_Lampiran.pdf 767.84

P Pelabuhan peti kemas saat ini memegang peranan penting dalam perekonomian daerahmaupun negara karena merupakan salah satu sumber pemasukan untuk daerah yangmemiliki pelabuhan peti kemas. Pelabuhan kawasan Ketapang memiliki dermaga multypurpose yang memuat barang dari kapal peti kemas dan kapal general cargo. Oleh karena itu, untuk menunjang dalam melakukan kegiatan bongkar muat peti kemas pada pelabuhan kawasan Ketapang akan dibangun dermaga khusus peti kemas dan lapangan penumpukan yang lebih memadai. Dalam menentukan kebutuhan bongkar muat peti kemas suatu pelabuhan, perlu di perhatikan rasio dari berth occupancy ratio (BOR) dan yard occupancy ratio (YOR). Perhitungan BOR dan YOR harus memproyeksikan data arus peti kemas dan arus kapal dengan menggunakan berbagai metode seperti metode eksponensial. Dengan menggunakan rasio tersebut didapatkan panjang dermaga 155 m dan luas lapangan penumpukan 4700 m2 untuk pelabuhan kawasan Ketapang. Pada pelabuhan kawasan Ketapang perkerasan yang digunakan adalah perkerasan rigid dengan slab beton tebal 35 cm dan mutu beton K400 pada lapisan permukaan dengan asumsi CBR subgrade 3%. Selain itu untuk lapisan subbase menggunakan material sirtu (pasir batu) dengan CBR 40% tebal 55 cm dan lapisan base menggunakan material agregat kelas A dengan CBR 90% tebal 30 cm. Dengan menggunakan alat rubber tyred gantry crane sebagai alat bantu bongkar muat pada lapangan penumpukan peti kemas, sistem yang digunakan disebut transtainer system.

T The container port currently holds an important role in the regional and state economybecause it is one of the income sources for regions that have container ports. The port ofthe Ketapang area has a multy purpose dock that contains goods from container ships and general cargo ships. Therefore, to support container loading and unloading activities at the port of the Ketapang area, a special container dock and a more adequate stacking field will be built. In determining the container loading and unloading of a port, it should be noted the ratio of the occupancy ratio (BOR) and yard occupancy ratio (YOR). BOR and YOR calculations must project container flow data and vessel flows using various methods such as exponential methods. By using this ratio, the pier length is 155 m and the area of the stacking field is 4700 m2 for the port of Ketapang. In the port area of Ketapang the pavement used is rigid pavement with 35 cm thick slab and K400 concrete quality on the surface layer assuming subgrade CBR is 3%. In addition to the subbase layer using material sand (rock sand) with CBR 40% 55 cm thickness and base layer using class A aggregate material with CBR 90% 30 cm thickness. By using a rubber tyred gantry crane as a tool for loading and unloading in the container stacking field, the system used is called a transtainer system.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?