DETAIL KOLEKSI

Perbaikan Kualitas Pada Produk Folding Dengan Menggunakan Metode Failure Mode And Effect Analysis (fmea) Dan Analytical Hierarchy Process (aph) Di Pt. Selectrix Indonesia


Oleh : Radityo Adhi Waskito

Info Katalog

Penerbit : FTI - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2017

Pembimbing 1 : Johnson Saragih

Pembimbing 2 : Deddy Sugiarto

Subyek : Locks and keys - Quality control

Kata Kunci : quality improvement, folding products, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Method, Analytical Hi


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2017_TA_TI_06311128_Halaman-Judul.pdf 2230.04
2. 2017_TA_TI_06311128_Bab-1.pdf 914.99
3. 2017_TA_TI_06311128_Bab-2.pdf 1271.05
4. 2017_TA_TI_06311128_Bab-3.pdf 768.17
5. 2017_TA_TI_06311128_Bab-4.pdf 1259.73
6. 2017_TA_TI_06311128_Bab-5.pdf 1347.48
7. 2017_TA_TI_06311128_Bab-6.pdf 706.95
8. 2017_TA_TI_06311128_Daftar-Pustaka.pdf 611.24
9. 2017_TA_TI_06311128_Lampiran.pdf 1177.29

P PT. Selectrix Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi locking equipment. Penelitian dilakukan pada proses produksi untuk produk Folding T. Untuk produk Folding T termasuk di dalam produksi Swing Handle & Folding T yang memiliki aliran proses yang sama. Dalam produksi kelompok SH&FT terdiri dari 2 bagian yaitu proses untuk bahan baku steel dan proses untuk bahan baku zinc. Berdasarkan data historis cacat produk Folding T bulan Februari 2016 hingga April 2016 didapati jumlah persentase cacat sebesar 18,32 %. Untuk proses produksi Folding T terdapat 3 tahapan utama yaitu proses casting, proses deburring, dan proses plating. Penelitian ini menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis dan metode Analytical Hierarchy Process untuk mengidentifikasi jenis kegagalan yang paling dominan pada proses plating. Dari metode Failure Mode and Effect Analysis diperoleh nilai RPN (Risk Priority Number) tertinggi yaitu 168 untuk sub-proses Surfacing. Kegagalan yang terjadi pada proses tersebut yaitu part yang berubah warna menjadi menguning. Hal tersebut dikarenakan berbagai hal antara lain karena tidak stabilnya arus listrik yang dijalankan oleh mesin rectifier. Hal lain yang dapat memicu kegagalan yaitu waktu pelapisan yang terlalu lama atau tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan training operator untuk memperjelas instruksi dalam pekerjaan surfacing. Berdasarkan perhitungan AHP didapatkan bahwa jenis kegagalan bintik merupakan jenis kegagalan tertinggi dengan nilai bobot sebesar 0,4523. Lalu jenis kegagalan dengan urutan ke-2, 3, dan 4 secara berturut turut yaitu kuning dengan nilai 0,2892; kasar dengan nilai 0,1685; dan buram dengan nilai 0,09. Dengan hasil tersebut disimpulkan bahwa jenis kegagalan bitnik dan jenis kegagalan kuning harus diperhatikan untuk menghilangkan ketidakstabilan pada proses plating dan untuk memperlancar proses.

P PT. Selectrix Indonesia is a company engaged in production of locking equipment. This research focused on production process of Folding T. Folding T is included on production group of Swing Handle & Folding T which has same process flow. On this production group of SH&FT contain two parts of process that is for steel and zinc raw materials. According to historical data of Folding T based on February-April 2016, we have a result of 18,32% defect percentage. For this Folding T production, it has three main process which contain casting, deburring, and plating. This research use two methods that is Failure Mode and Effect Analysis; and Analytical Hierarchy Process to identify the most dominant cause of defect on plating process. In Failure Mode and Effect Analysis we can get highest RPN (Risk Priority Number) value of 168 for Surfacing sub-process. The most dominant cause of defect on that process according to this methods is that part turned its color into yellow. That process caused by an unstabilized rectifier machine. Another cause for this defect that is an error caused by human. To solve this problem, operators need to be trained to understand all the instruction on this process. Based on AHP, the result shows that freckle defects are the highest value of defects with value of 0,4523. Continued by yellow defects, rough defects, and blur defects with each value of 0,2892; 0,1685; and 0,09.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?