DETAIL KOLEKSI

Analisis Petrofisik Zona Prospek Hidrokarbon Pada Lapangan "tb"


Oleh : Mochamad Dimas Tri Bramantyo

Info Katalog

Nomor Panggil : 1166/TP/2019

Penerbit : FTKE - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2019

Pembimbing 1 : Asri Anugrahanti

Pembimbing 2 : Puriwijayanti

Subyek : Petroleum engineering - Hydrocarbon

Kata Kunci : prospect zone, porosity, water saturation, volume shale.


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2019_TA_TM_071001400098_HALAMAN-JUDUL.pdf 8460.27
2. 2019_TA_TM_071001400098_BAB-1.pdf 1052.1
3. 2019_TA_TM_071001400098_BAB-2.pdf 6192.48
4. 2019_TA_TM_071001400098_BAB-3.pdf 1861.34
5. 2019_TA_TM_071001400098_BAB-4.pdf 3895.22
6. 2019_TA_TM_071001400098_BAB-5.pdf 810.73
7. 2019_TA_TM_071001400098_DAFTAR-PUSTAKA.pdf 810.24
8. 2019_TA_TM_071001400098_LAMPIRAN.pdf 17364.77

P Penilaian formasi adalah suatu cabang ilmu dari teknik perminyakan yang mempelajari tentang formasi atau batuan dan permasalahan yang berhubungan dengan keberhasilan dalam penemuan cadangan hidrokarbon. Pada Tugas Akhir ini, penelitian yang dilakukan adalah analisis petrofisik pada zona prospek hidrokarbon. Analisis log petrofisika dilakukan untuk mengetahui parameter petrofisika batuan dalam formasi sehingga dapat menjadi bahan pendukung evaluasi kondisi reservoir serta identifikasi zona prospek hidrokarbon dan jenis hidrokarbon dari suatu lapangan eksplorasi.Dalam penelitian ini dilakukan analisis terhadap 15 sumur yang berada di lapangan “TB” dengan menganalisis masing-masing 2 lapisan di tiap sumur, yaitu lapisan Z.2150 dan lapisan Z.2190. Hasil akhir penelitian ini berupa parameter petrofisika yaitu porositas, saturasi air, volume serpih atau volume shale.Analisis yang dilakukan adalah analisis secara kuantitatif dan kualitatif. Interpretasi log secara kualitatif dapat digunakan untuk membedakan antara lapisan yang bersih (clean formation) dan lapisan yang kotor (shaly formation). Shaly formation dapat mempengaruhi keakuratan perhitungan sifat petrofisiknya. Selain itu, lumpur pemboran yang terinvasi kedalam formasi juga akan mempengaruhi perhitungan parameter petrofisik formasi tersebut. Interpretasi secara kuantitatif adalah interpretasi log terhadap data log yang dilakukan dengan menafsirkan kurva log kemudian dilanjutkan dengan perhitungan parameter-parameter petrofisik yang dibutuhkan seperti presentasi kandungan volume serpih (volume shale), porositas, saturasi air, dan juga permeabilitas pada formasi yang di analisis. Pada perhitungan saturasi air, metode yang digunakan adalah Metode Indonesia dan Metode Simandoux, Hal ini untuk membandingkan metode perhitungan mana yang mendapatkan hasil yang lebih optimis dalam penentuan sumur yang prospek hidrokarbon. Sedangkan untuk penentuan permeabilitas menggunakan Coates Free Fluid Index.Dalam penentuan lapisan prospek, dibutuhkan nilai cut off yang berguna untuk menentukan layak tidaknya suatu lapisan reservoir untuk diproduksikan. Nilai cut off yang digunakan pada penelitian kali ini adalah porositas sebesar 8%, nilai saturasi air (Sw) sebesar 60%, dan nilai volume shale sebesar 40%. Sedangkan nilai cut off untuk permeabilitas sebesar 22 mD, batas permeabilitas ini sendiri didapatkan dari crossplot antara porositas dan permeabilitas rata-rata di sumur yang di analisa.Dari perhitungan yang sudah dilakukan, didapatkan 3 sumur yang memenuhi standar nilai cut off yang sudah ditentukan yaitu sumur X-9, X-15, dan X-17. Pada sumur X-9, nilai porositas yang didapatkan setelah cut off adalah sebesar 8% pada lapisan Z.2150 dan 8,5% pada lapisan Z.2190, nilai saturasi air sebesar 3,56% dan 3,6% sedangkan nilai permeabilitasnya sebesar 68 mD dan 67,8 mD. Pada sumur X-15, nilai porositas yang didapatkan sebesar 17%, saturasi air sebesar 8,93% pada lapisan Z.2150 dan 3,61% pada lapisan Z.2190, nilai permeabilitas sebesar 55 mD pada kedua lapisan yang di analisa. Pada sumur X-17 nilai porositas sebesar 10% pada lapisan Z.2150 dan 10,5% pada Z.2190, nilai saturasi air sebesar 6,47% pada lapisan Z.2150 dan 4,75% pada lapisan Z.2190 dan permeabilitas sama pada dua lapisan yang di analisa, yaitu 49,6 mD.

F Formation assessment is a branch of petroleum engineering study about formation or rock and problems related to success in finding hydrocarbon reserves. In this Final Project, the research carried out is a petrophysical analysis of the hydrocarbon prospect zone. Petrophysical log analysis is carried out to determine the petrophysical parameters of rocks in the formation so that they can be used as supporting material for evaluation of reservoir conditions and identification of hydrocarbon prospect zones and hydrocarbon types from an exploration field.In this study an analysis of 15 wells in the "TB" field was analyzed by analyzing each of the 2 layers in each well, namely layer Z.2150 and layer Z.2190. The final results of this study are petrophysical parameters, namely porosity, water saturation, shale volume or shale volumeThe analysis carried out is quantitative and qualitative analysis. Qualitative log interpretation can be used to distinguish between clean formation and shaly formation. Shaly formation can affect the accuracy of the calculation of petrophysical properties. In addition, drilling mud invaded into the formation will also affect the calculation of the formation's petrophysical parameters. Quantitative interpretation is the log interpretation of log data carried out by interpreting the log curve then continued with the calculation of the required petrophysical parameters such as presentation of shale volume content, porosity, water saturation, and also permeability in the formation analyzed. In the calculation of water saturation, the method used is the Indonesian Method and the Simandoux Method. This is to compare which calculation method gets more optimistic results in determining wells with hydrocarbon prospects. As for determining permeability using Coates Free Fluid Index.In determining the prospect layer, a cut off value is needed to determine whether a reservoir layer is suitable for production. The cut off value used in this study is porosity of 8%, water saturation value (Sw) of 60%, and shale volume value of 40%. While the cut off value for permeability is 22 mD, the permeability limit itself is obtained from the crossplot between the porosity and the average permeability in the well analyzed.From the calculations that have been done, we get 3 wells that have met the standard cut-off values that have been determined, namely wells X-9, X-15, and X-17. In X-9 wells, the porosity value obtained after the cut off is 8% at the Z.2150 layer and 8.5% at the Z.2190 layer, the water saturation value is 3.56% and 3.6% while the permeability value is 68 mD and 67.8 mD. In the X-15 well, the porosity value obtained was 17%, the water saturation was 8.93% in the Z.2150 layer and 3.61% in the Z.2190 layer, the permeability value of 55 mD in the two layers was analyzed. In the X-17 well the porosity value is 10% on the Z.2150 layer and 10.5% on Z.2190, the water saturation value is 6.47% on the Z.2150 layer and 4.75% on the Z.2190 layer and permeability the same on the two layers analyzed, which is 49.6 mD.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?