DETAIL KOLEKSI

Pemanfaatan Limbah Kulit Ketela (manihot Esculenta Crantz) Sebagai Bahan Baku Bioetanol Oleh Aktivitas Enzimatis Fungi Aspergillus Fumigatus Dan Saccharomyces Cerevisae


Oleh : Putra Adyasa Jatnika

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2019

Pembimbing 1 : Astri Rinanti Nugroho

Pembimbing 2 : Ratnaningsih

Subyek : Waste - Bioethanol;Environmental engineering

Kata Kunci : cassava waste, cassava peels, saccharomyces cerevisae, aspergillus fumigatus, delignification


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2019_TA_STL_082001500046_Halaman-judul.pdf 1499.46
2. 2019_TA_STL_082001500046_Bab-1.pdf 90.03
3. 2019_TA_STL_082001500046_Bab-2.pdf 385.8
4. 2019_TA_STL_082001500046_Bab-3.pdf 429.38
5. 2019_TA_STL_082001500046_Bab-4.pdf 1433.49
6. 2019_TA_STL_082001500046_Bab-5.pdf 77.39
7. 2019_TA_STL_082001500046_Daftar-pustaka.pdf 164.85
8. 2019_TA_STL_082001500046_Lampiran.pdf 19645.67

I Industri berbasis pertanian menghasilkan sejumlah besar limbah padat seperti kulit ketela. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit ketela sebagai biomassa (substrat) yang berpotensi menjadi bioethanol. Proses pembuatan bioetanol dilalui dengan 4 tahap yaitu pretreatment/delignifikasi, hidrolisis, fermentasi, dan destilasi. Kulit ketela dipreparasi secara mekanis hingga berukuran 40-80 mesh sebanyak 10 gr. Biokatalisator Aspergillus fumigatus dan Saccharomyces cerevisae dikultivasi pada media Potato Dextrose Broth (PDB) dan Yeast Malt Extract Glucose Peptone (YMGP). Delignifikasi oleh A. fumigatus divariasikan dengan perbandingan substrat:biokatalisator = 1:1; 2:1; dan 1:2 pada waktu kontak 3, 5, dan 7 hari. Kadar lignin pada tahap delignifikasi diukur menggunakan metode gravimetri. Hidrolisis dilakukan untuk menghasilkan glukosa sebagai substrat yang dapat di fermentasi oleh S. cerevisae. Hidrolisis dilakukan dengan asam sulfat (H2SO4) 1, 3, dan 5% pada waktu kontak 30, 60 dan 90 menit. Konsentrasi glukosa diukur dengan menggunakan metode 3,5-dinitrosalisilat (DNS). Fermentasi dilakukan oleh S. cerevisae menggunakan variasi substrat:biokatalisator = 1:1; 2:1; dan 1:2 pada waktu kontak 3, 5 dan 7 hari. Proses destilasi dilakukan setelah fermentasi pada suhu 70oC yang diukur dengan menggunakan metode Gas Chromatography – Mass Spectophotometry (GCMS). Penelitian ini menghasilkan delignifikasi optimum terjadi pada variasi perbandingan 2:1 pada waktu kontak 5 hari dengan penyisihan lignin sebesar 40,64%. Konsentrasi glukosa optimum pada tahap hidrolisis menghasilkan 1,817 g/L pada konsentrasi asam sulfat (H2SO4) 5% pada waktu kontak 60 menit. Kandungan etanol tertinggi terjadi pada perbandingan 1:2 dengan waktu kontak 5 hari. Terdapat kandungan lainnya dalam pengukuran etanol yaitu Phenyl Alcohol. Kandungan etanol sebesar 73,77% didapatkan dari etanol dan Phenyl Alcohol. Berdasarkan perhitungan pilot scale dengan diameter 17 m dan tinggi 17 m, maka untuk 100 kg kulit ketela dapat menghasilkan 185,87 L etanol total. Diperlukan kajian lebih lanjut pada penelitian ini untuk meningkatkan produksi etanol dari bahan baku kulit ketela. Penelitian ini memberikan informasi bahwa kulit ketela dapat menghasilkan bioetanol melalui proses enzimatis yang melibatkan fungi A. fumigatus dan S. cerevisae.

A Agriculture-based industries produce large amounts of solid waste such as cassava peels. This study aims to utilize cassava skin waste as biomass (substrate) which has the potential to become bioethanol. The process of making bioethanol goes through 4 stages, namely pretreatment/delignification, hydrolysis, fermentation, and distillation. The cassava is prepared mechanically up to 40-80 mesh in size of 10 grams. Biocatalysts of Aspergillus fumigatus and Saccharomyces cerevisae were cultivated on Potato Dextrose Broth (PDB) and Yeast Malt Extract Glucose Peptone (YMGP) media. Delignification by A. fumigatus is varied by substrate ratio: biocatalyst = 1: 1; 2: 1; and 1: 2 at 3, 5 and 7 days contact time. Lignin levels in the delignification stage were measured using the gravimetric method. Hydrolysis is carried out to produce glucose as a substrate that can be fermented by S. cerevisae. Hydrolysis was carried out with sulfuric acid (H2SO4) 1, 3, and 5% at the contact time of 30, 60 and 90 minutes. Glucose concentration was measured using the 3,5-dinitrosalicylate (DNS) method. Fermentation was carried out by S. cerevisae using variations of the substrate: biocatalyst = 1: 1; 2: 1; and 1: 2 at 3, 5 and 7 days contact time. The distillation process is carried out after fermentation at 70oC which is measured using the Gas Chromatography - Mass Spectophotometry (GCMS) method. This study resulted in optimum delignification occurring in a 2: 1 ratio variation at 5 days contact time with lignin removal of 40.64%. The optimum glucose concentration at the hydrolysis stage produces 1,817 g / L at 5% sulfuric acid (H2SO4) concentration at 60 minutes contact time. The highest ethanol content occurs at a ratio of 1: 2 with a contact time of 5 days. There is another content in the measurement of ethanol, namely Phenyl Alcohol. Ethanol content of 73.77% is obtained from ethanol and phenyl alcohol. Based on the calculation of a pilot scale with a diameter of 17 m and a height of 17 m, 100 kg of cassava can produce 185.87 L of total ethanol. Further studies are needed in this research to increase the production of ethanol from cassava raw materials. This research provides information that cassava skin can produce bioethanol through an enzymatic process involving A. fumigatus and S. cerevisae fungi.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?