DETAIL KOLEKSI

Kajian keterpaduan moda transportasi angkutan umum dengan KRL Commuter Line di Kota Bogor


Oleh : Fikri Azhari Fareza

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2019

Pembimbing 1 : Rahel Situmorang

Pembimbing 2 : Jaap C. Levara

Subyek : Urban transportation

Kata Kunci : commuter, integrated, public transit, origin and destination, travel costs, travel time


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2019_TA_SPW_083001400015_Halaman-Judul.pdf 1723.51
2. 2019_TA_SPW_083001400015_BAB-1.pdf 613.88
3. 2019_TA_SPW_083001400015_BAB-2.pdf 461.33
4. 2019_TA_SPW_083001400015_BAB-3.pdf 475.55
5. 2019_TA_SPW_083001400015_BAB-4.pdf 1133.73
6. 2019_TA_SPW_083001400015_BAB-5.pdf 1586.32
7. 2019_TA_SPW_083001400015_BAB-6.pdf 288.09
8. 2019_TA_SPW_083001400015_Daftar-Pustaka.pdf 219.81
9. 2019_TA_SPW_083001400015_Lampiran.pdf 723.48

K Kota Bogor sebagai salah satu kota penyangga Ibu Kota memiliki tingkat mobilitas penduduk yang tinggi diperkotaan. Tingginya tingkat mobilitas tersebut menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan sarana dan prasarana transportasi. Hal ini memicu munculnya kaum komuter diperkotaan. Kota Bogor dilayani oleh angkutan umum dengan jumlah armada sebanyak 3.412 armada yang terbagi kedalam 23 trayek. Dari 23 trayek angkutan umum tersebut hanya ada 6 trayek angkutan umum yang melintas dan berhenti ke Stasiun Kereta Api Bogor, artinya ada 17 trayek angkutan umum yang tidak terhubung secara langsung menuju Stasiun Kereta Api Bogor. Hal ini membuat komuter yang berada di wilayah pinggiran kota akan mengalami kesulitan untuk mencapai Stasiun Kereta Api Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keterpaduan moda transportasi angkutan umum dengan KRL Commuter Line di Kota Bogor dari segi asal dan tujuan keberangkatan, biaya transportasi dan waktu tempuh perjalanan. Berdasarkan asal dan tujuan keberangkatan wilayah yang memiliki tingkat pergerakan penduduk yang paling tinggi yaitu berada di wilayah Kelurahan Cibogor, Kecamatan Bogor Tengah sebesar 13% sedangkan yang terendah sebesar 1% berada di wilayah Kelurahan Cisarua. Berdasarkan hasil analisis biaya perjalanan rata – rata yang dikeluarkan oleh komuter sebesar Rp. 10.266 dan waktu tempuh perjalanan komuter rata – rata adalah 35,43 Menit.

B Bogor City as one of the city's capital buffer has a high population mobility level in city. The high degree of mobility of the rising need for transport infrastructure and facilities. This triggered the rise of city commuters. Bogor City is served by public transport with a total fleet of as much of the fleet is divided into 3,412 23 routes. Of the 23 public transit routes only have 6 routes public transport pass and quit to the Bogor railway station, meaning that there are 17 routes of public transport are not connected directly towards the Bogor railway station. This makes the commuters in the suburbs will have difficulty going to the Bogor railway station. This research aims to indentify or find alignment mode of public transit transportation with the KRL Commuter Line in the city of Bogor in terms of origin and destination departure, transportation costs and travel time. Based on origin and destination departure level area that has the most population movement the height that is located in the region of the village Cibogor, district of Bogor Middle of 13% while the lowest 1% are in the region of Cisarua Village. Based on the results of the analysis of cost of travel averaged issued by commuter Rp.10,266 and commuter travel time averaged was 35.43 Seconds.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?