DETAIL KOLEKSI

Hubungan kadar asam urat urin dengan nilai estimated glomerular filtration rate pada warga Tomang Banjir Kanal


Oleh : Riana Rahmadhany

Info Katalog

Nomor Panggil : 616.61/RAH/h

Penerbit : FK - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2014

Pembimbing 1 : Candra Wibowo

Subyek : Uric acid;Epidemiology - Residents of Tomang Banjir Kanal

Kata Kunci : serum uric acid, uric acid, kidney function, residents of Tomang Banjir Kanal


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2014_TA_KD_03010235_Halaman-judul.pdf 1128.8
2. 2014_TA_KD_03010235_Bab-1-Pendahuluan.pdf 611.98
3. 2014_TA_KD_03010235_Bab-2-Tinjauan-literatur.pdf 707.46
4. 2014_TA_KD_03010235_Bab-3-Kerangka-konsep.pdf 688.47
5. 2014_TA_KD_03010235_Bab-4-Metode.pdf 906.51
6. 2014_TA_KD_03010235_Bab-5-Hasil.pdf 628.6
7. 2014_TA_KD_03010235_Bab-6-Pembahasan.pdf 673.62
8. 2014_TA_KD_03010235_Bab-7-Kesimpulan.pdf 667.17
9. 2014_TA_KD_03010235_Daftar-pustaka.pdf 681.18
10. 2014_TA_KD_03010235_Lampiran.pdf 1255.29

H Hiperurisemia adalah keadaan peningkatan kadar asam urat dalam serum. Hiperurisemia terjadi ketika produksi dan ekskresi tidak seimbang. Prevalensi hiperurisemia meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007, angka kejadian hiperurisemia secara nasional adalah 32,2 % dimana yang terbanyak berada di provinsi Sulawesi Utara dengan presentase 47,7 %. Sedangkan di Jakarta sekitar 29,8% yang meningkat dibandingkan tahun 2002 dengan presentase 24,7 %.1. Hiperurisemia dapat menyebabkan menumpuknya monosodium urat sehingga terbentuk deposit kristal. Penumpukkan deposit kristal bisa mengenai sendi ataupun ginjal. Jika mengenai sendi akan terjadi artritis gout. Kerusakan fungsi ginjal bisa terjadi jika penumpukkan deposit kristal mengenai interstitial ginjal dan dapat terpicunya respon inflamasi. Respon inflamasi berpotensi menyebabkan fibrosis interstitial dan gagal ginjal kronik. Fibrosis interstitial tersebut akan meningkatkan kadar asam urat dalam urin yang disebut hiperurikosuria. 2. Penelitian yang dilakukan di Indonesia yaitu pada penduduk Minahasa ditemukan bahwa penurunan fungsi ginjal berhubungan dengan kadar asam urat urin dan tidak berhubungan dengan usia, asam urat serum, lamanya gout artritis atau tophi. 3. Penelitian lainnya yang diteliti oleh Andrew (2004) ditemukan bahwa terjadinya nephrolithiasis dan penurunan fungsi ginjal disebabkan oleh faktor-faktor seperti hiperurikosuria, volume urin rendah, dan pH urin yang asam. Meskipun demikian, patogenesis neprolithiasis dan penurunan fungsi ginjal belum sepenuhnya dipahami. 4. Berdasarkan dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh Andrew dan Candra menunjukkan ada keterkaitan asam urat dalam urin terhadap fungsi ginjal walaupun patofisiologinya masih belum jelas. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai hubungan kadar asam urat dalam Hubungan kadar asam urat urin dengan nilai estimated glomerular filtration rate pada warga Tomang Banjir KanalRiana Rahmadhanyxiiurin dengan fungsi ginjal yang dinyatakan dengan nilai estimated glomerulus filtration rate (eGFR). Rancangan penelitian adalah observasional analitis dengan pendekatan potong lintang. Pelaksanaan penelitian dilakukan di komunitas Tomang Banjir Kanal, Jakarta Barat. Penelitian dilaksanakan bulan Oktober – Desember 2013 dengan sampel 30 orang. Data dikumpulkan berupa anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium yang meliputi pemeriksaan asam urat serum, asam urat urin serta kreatinin serum. Analisis data dengan menggunakan SPSS 20 dengan uji korelasi Pearson dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05. Hasil analisis antara kadar asam urat urin dengan nilai eGFR berdasarkan uji korelasi Pearson didapatkan korelasi lemah dan arah negatif serta tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Artinya pada penelitian tidak terdapat korelasi antara kadar asam urat urin dengan nilai eGFR. (r= -0,134, p= 0,481). Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Mayoritas subyek penelitian (76,7%) adalah perempuan. Sebagian besar subyek penelitian (53,3%) memiliki rentang usia 40-60 tahun. 2. Tidak ada korelasi antara kadar asam urat urin dengan nilai eGFRl

H Hyperuricemia is a state of increased serum uric acid levels. Hyperuricemia occurs when production and excretion are unbalanced. The prevalence of hyperuricemia increases from year to year. In 2007, the incidence of hyperuricemia nationally was 32.2%, with the largest in North Sulawesi province with a percentage of 47.7%. Whereas in Jakarta around 29.8% increased compared to 2002 with a percentage of 24.7% .1. Hyperuricemia can cause accumulation of monosodium urate to form a crystal deposit. A buildup of crystal deposits can affect the joints or kidneys. Gout arthritis affects the joints. Damage to kidney function can occur if a buildup of crystalline deposits affects the interstitial kidney and an inflammatory response can be triggered. The inflammatory response has the potential to cause interstitial fibrosis and chronic renal failure. Interstitial fibrosis will increase uric acid levels in the urine called hyperuricosuria. 2. Research conducted in Indonesia in the Minahasa population found that decreased kidney function was associated with uric acid levels and was not related to age, serum uric acid, duration of gout arthritis or tophi. 3. Other studies examined by Andrew (2004) found that the occurrence of nephrolithiasis and decreased renal function are caused by factors such as hyperuricosuria, low urine volume, and acidic pH of urine. However, the pathogenesis of neprolithiasis and decreased renal function have not been fully understood. 4. Based on studies conducted by Andrew and Candra shows that there is a link between uric acid in the urine to kidney function although the pathophysiology is still unclear. Therefore, the researchers were interested in further investigating the relationship between uric acid levels in the relationship between uric acid levels and the estimated glomerular filtration rate in Tomang Banjir Kanal Riana Rahmadhanyxiiurin residents with kidney function expressed by the estimated glomerular filtration rate (eGFR). The study design was analytical observational with a cross sectional approach. The research was carried out in the Tomang Banjir Kanal community, West Jakarta. The study was conducted in October - December 2013 with a sample of 30 people. Data were collected in the form of history, physical examination and laboratory examination which included examination of serum uric acid, uric acid and serum creatinine. Data analysis using SPSS 20 with Pearson correlation test and the significance level used is 0.05. The results of the analysis between urine uric acid levels and eGFR values ​​based on Pearson correlation test showed weak correlation and negative direction and did not show a meaningful relationship. This means that in the study there was no correlation between uric acid levels and eGFR values. (r = -0.134, p = 0.481). Based on the results of the study, the following conclusions were obtained: 1. The majority of research subjects (76.7%) were women. Most research subjects (53.3%) have an age range of 40-60 years. 2. There is no correlation between uric acid levels and eGFRl values

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?