DETAIL KOLEKSI

Kajian desain motif tenun ikat Looneke, Belu, Nusa Tenggara Timur


Oleh : Wulan Tagu Dedo

Info Katalog

Nomor Panggil : 0017/T/2013

Subyek : Textile - Weaving;Fashion design

Penerbit : FSRD - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2013

Pembimbing 1 : Soni Dharsono

Kata Kunci : unique, exotic, philosophical


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2013_TS_MDP_191110044_Bab-1....pdf 268.01

T Tenun merupakan salah satu kekayaan intelektual terbesar yang dimiliki di Indonesia, dengan pengrajin terbanyak yang berada di Nusa Tenggara Timur. Penulis tertarik dengan pengrajin yang ada di salah satu kelompok tenun yang ada di Kabupaten Belu, yaitu Kelompok Tenun Putri Tunggal Looneke. Di kampung ini masih menjunjung tinggi tata cara dalam bertenun yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Mulai dari proses pewarnaan yang masih menggunakan bahan-bahan alam, seperti akar mengkudu, kunyit, tumbuhan indigo, dan lainlain. Juga dalam proses pembuatan kain tenun itu sendiri, yang masih menggunakan bahan baku kapas, diolah sehingga menjadi sehelai kain. Tidak hanya sampai pada proses, bentuk desain motif yang ada pada kain tenun ikat tersebut bukanlah sekedar hiasan motif, tetapi mengandung makna-makna simbolik yang berarti bagi mereka. Motif-motif ini timbul akibat tidak adanya budaya tulis di NTT, maka aturan dan pedoman hidup dibubuhkan pada kain berupa motif-motif geometris. Hal ini perlu diangkat sebagai bentuk apresiasi yang mendalam kepada para penenun yang masih menggunakan tata cara tradisional seperti ini. Beberapa daerah di NTT sudah jarang ditemukan para penenun, ini sangat disayangkan karena tenun ikat NTT ditakutkan hanya akan menjadi barang sejarah. Penelitian dengan metode interaksi analisis dan interpretasi analisis bermaksud untuk mengungkap keunikan yang dimiliki pada kain tenun ikat di Looneke, sehingga pada tahap awal ini penulis bisa mendapatkan banyak informasi untuk melanjutkan pada penulisan berikutnya mengenai usaha dalam tumbuhkembang kain tenun ikat di Indonesia kepada seluruh dunia.

W Weaving is one of the largest intellectual property owned in Indonesia, with most artisans residing in East Nusa Tenggara. Authors interested with craftsmen in weaving one group that is in Belu regency, Kelompok Tenun Putri Tunggal Looneke. In this village still uphold the weaving procedure has been done for generations. Starting from the coloring process that still uses natural materials, such as noni roots, turmeric, indigo plants, and others. Also in the process of making woven fabric itself, which still uses cotton raw material, processed to become a piece of cloth. Not only to the process, the existing forms of design motifs on fabrics ikat is not a decorative motif, but contain symbolic meanings that are meaningful to them. These motifs arise from the absence of written culture in the province, then the rules and guidelines shall be affixed to the fabric of life in the form of geometric motifs. This needs to be appointed as a form of deep appreciation to the weavers who still use traditional procedures like this. Some areas in the province have rarely found the weavers, this is unfortunate because it feared NTT woven goods will only be history. Research with methods of interaction analysis and interpretation of analysis aims to shed light on the uniqueness of ikat in Looneke, so at this early stage writers can get a lot of information to go on regarding the next entry in the business cultivate ikat in Indonesia to the world.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?