DETAIL KOLEKSI

Analisis geokimia dan korelasi minyak bumi dengan batuan induk serta pemodelan cekungan 1D daerah Lhokseumawe cekungan Sumatera Utara


Oleh : Muhamad Aditya

Info Katalog

Nomor Panggil : 1120/TG/2019

Penerbit : FTKE - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2019

Pembimbing 1 : Agus Guntoro

Pembimbing 2 : Nurullah Akmal

Subyek : Geochemistry

Kata Kunci : geochemistry, source rock, biomarker, Maturity.


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2019_TA_GL_072001500076_Halaman-Judul.pdf 6156.62
2. 2019_TA_GL_072001500076_Bab-1.pdf 1961.62
3. 2019_TA_GL_072001500076_Bab-2.pdf 7988.66
4. 2019_TA_GL_072001500076_Bab-3.pdf 1931.8
5. 2019_TA_GL_072001500076_Bab-4.pdf 14462.12
6. 2019_TA_GL_072001500076_Bab-5.pdf 1251.62
7. 2019_TA_GL_072001500076_Daftar-Pustaka.pdf 1381.3
8. 2019_TA_GL_072001500076_Lampiran.pdf 8029.73

C Cekungan Sumatera Utara merupakan salah satu cekungan sedimen dengan potensi hidrokarbon terbesar di Indonesia. Oleh sebab itu studi mengenai batuan induk dan minyak bumi pada daerah ini akan menjadi salah satu hal yang krusial dalam eksplorasi minyak dan gas bumi. Daerah penelitian terletak pada pantai timur Lhokseumawe dengan subjek penelitian adalah analisis batuan induk, analisis biomarker dan pemodelan cekungan satu dimensi. Objek penelitian berupa data biostratigrafi, TOC, Vitrinite Reflectance, Rock Eval Pyrolisis, GC, GC-MS dan Karbon Isotop pada sumur DY-1 dan sumur TM-1 serta beberapa sample minyak bumi pada daerah penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi batuan induk serta menganalisis kandungan biomarker baik pada batuan induk maupun minyak bumi pada daerah penelitian untuk kemudian dilakukan korelasi untuk mengetahui kemungkinan adanya hubungan genetik diantara keduanya. Selain itu kondisi cekungan pun dimodelkan secara satu dimensi yang akan berasosiasi dengan tingkat kematangan batuan induk tu sendiri. Berdasarkan hasil analisis geokimia menunukkan interval yang dinilai paling baik sebagai batuan induk adalah MFS2 to SB2 eq Middle Miocene eq Near Top Lower Baong dengan nilai TOC 0.95%, Kerogen Type II-III dan tingkat kematangan mencapai peak mature. Kemudian berdasarkan analisis biomarker batuan induk pada interval SB2 eq Middle Miocene eq Near Top Lower Baong dengan metode GC, Isoprenoid, Pentasiklik Triterpana, Sterana dan Karbon Isotop menunjukkan lingkungan pengendapan batuan induk berada pada lingkungan open marine. Sementara itu berdasarkan analisis kematangan dengan Pentasiklik Triterpana menunjukkan bahwa interval SB2 eq Middle Miocene eq Near Top Lower Baong berada dalam tingkat kematangan peak mature. Hasil korelasi batuan induk dengan minyak bumi pada daerah penelitian menunjukkan hasil korelasi positif diantara keduanya. Selain itu melalui hasil pemodelan cekungan dapat diketahui bahwa batuan induk pada daerah penelitian mulai memasuki fase awal kematangan pada kala Miosen Akhir sedangkan fase puncak kematangan pada kala Pliosen.

T The North Sumatra Basin is one of the largest sedimentary basin with a high hydrocarbon potential in Indonesia. Therefore the study of source rock and petroleum in this area will be one of the crucial things in oil and gas exploration. The research area is located on the east coast of Lhokseumawe with the research subjects being the source rock analysis, biomarker analysis and one-dimensional basin modeling. The object of the research was biostratigraphic data, TOC, Vitrinite Reflectance, Rock Eval Pyrolysis, GC, GC-MS and Carbon Isotopes in well DY-1 and well TM-1 and several petroleum samples in the study area. The purpose of this study is to analyze the potential of the source rock and analyze the content of biomarkers in both the source rock and petroleum in the study area and then to make a correlation to determine the possibility of a genetic relationship between the two. In addition, the basin condition is modeled in one dimension which will be associated with the source rock maturity level itself. Based on the results of the geochemical analysis showing the interval that is considered the best as the source rock is MFS2 to SB2 eq Middle Miocene eq Near Top Lower Baong with TOC value of 0.95%, Kerogen Type II-III and maturity levels reaching peak mature. Then based on the analysis of source rock biomarkers in the MFS2 to SB2 eq Middle Miocene eq Near Top Lower Baong interval with GC, Isoprenoid, Pentacyclic Triterpana, Sterane and Carbon Isotope methods showing the source rock depositional environment is in the open marine environment. Meanwhile, based on maturity analysis with Pentasiklik Triterpane shows that the MFS2 to SB2 eq Middle Miocene eq Near Top Lower Baong interval is at the peak maturity level of maturity. The results of oil to source rock correlation in the study area showed a positive correlation between the two. In addition, through the basin modeling result, it can be seen that the source rocks in the study area began to enter the early phase of maturity at the Late Miocene stage, while the peak phase of maturity started in the Pliocene.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?