DETAIL KOLEKSI

Kajian tingkat kebisingan lalu lintas terhadap kawasan pendidikan di Jalan Ragunan Jakarta


Oleh : Diky Saputra Prama Ditya

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2017

Pembimbing 1 : Hernani Yulinawati

Pembimbing 2 : Endro Suswantoro

Subyek : Traffic noise - Environmental aspects;Transportation noise

Kata Kunci : noise level, traffic noise, education area, Jakarta


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2017_TA_TL_08211011_Halaman-judul.pdf 1982.78
2. 2017_TA_TL_08211011_Bab-1.pdf 224.57
3. 2017_TA_TL_08211011_Bab-2.pdf 490.63
4. 2017_TA_TL_08211011_Bab-3.pdf 751.8
5. 2017_TA_TL_08211011_Bab-4.pdf 1759.76
6. 2017_TA_TL_08211011_Bab-5.pdf 144.41
7. 2017_TA_TL_08211011_Daftar-pustaka.pdf 147.68
8. 2017_ta_tl_08211011_Lampiran.pdf 1207.15

S Salah satu penyebab kebisingan lalulintas adalah kenaikan volume dan kecepatan kendaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kebisingan akibat lalulintas pada Jalan Raya Ragunan, Jakarta terhadap kawasan pendidikan yang ada di jalan tersebut yaitu SMAN 28 dan SMKN 25. Metode pengukuran kebisingan menggunakan Sound Level Meter untuk mengukur tingkat kebisingan equivalen (Leq) lingkungan di 12 titik pada hari Senin – Jumat mewakili hari kerja dan hari Minggu mewakili hari libur selama 16 jam pada siang hari (Ls) sesuai KepMenLH No. 48/1996. Pengukuran dilakukan selama 2 minggu, yaitu 30 Mei – 12 Juni 2016. Pengambilan data jumlah kendaraan dengan selang waktu 10 menit dilakukan di 2 titik pada hari Senin dan Jumat mewakili hari kerja serta hari Minggu mewakili hari libur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebisingan lingkungan paling tinggi terjadi pada interval waktu ke-4 (L4) mewakili pukul 17.00 – 22.00 WIB sebesar 75,2 dB(A). Berdasarkan lokasi, di SMAN 28 Leq tertinggi terjadi di Titik 1 (Pintu Masuk Sekolah) yaitu 72 dB(A) dan terendah di Titik 6 (Laboratorium Biologi) sebesar 60 dB(A). Sedangkan di SMKN 25 Leq tertinggi tercatat pada Titik 1 (Pintu Masuk Sekolah) sebesar 71,5 dB(A) dan terendah pada Titik 5 (Perpustakaan) yaitu 63,6 dB(A). Tingkat Kebisingan di kedua sekolah telah melebihi baku tingkat kebisingan (KepMenLH No. 48/1996 dan KepGub DKI Jakarta No. 551/2001) yang ditentukan sebesar 55 dB(A) untuk zona pendidikan. Tidak ada hubungan yang erat antara jumlah kendaraan dengan tingkat kebisingan karena nilai regresi (R²) hanya 0,234 untuk hari Senin, 0,229 hari Jumat dan hari Minggu 0,106. Kebisingan yang terjadi diperkirakan karena factor kecepatan kendaraan yang melintas di Jalan Raya Ragunan. Hubungan antara tingkat ketergangguan dengan kebisingan menggunakan regresi linier dengan nilai R² yaitu 0,6798 artinya ada hubungan yang berarti antara kebisingan dengan tingkat ketergangguan sebesar 68%. Pengendalian bising dapat dilakukan pada sumber, media/lingkungan dan penerima. Pengendalian paling efektif penerapannya adalah pada media/lingkungan, yaitu dengan penambahan barrier alami berupa tanaman dan barrier buatan berupa dinding dengan material bangunan yang dapat meredam kebisingan.

T Traffic noise is caused by the increase of vehicles’ volume and speed. This study aims to determine the effect of noise levels due to traffic on Raya Ragunan Road, Jakarta to the school areas near it, which are SMAN 28 and SMK 25. The method of noise measurement using Sound Level Meter for measuring the equivalent noise level (Leq) of environment in 12 locations on Monday to Friday represent the weekdays and Sunday represents the weekend for 16 hours during the day (LD) in accordance MoE Decree No. 48/1996. Sampling was conducted for 2 weeks, from 30 May to 12 June 2016. Data of the number of vehicles with an interval of 10 minutes conducted at two locations on Monday and Friday represent the weekdays as well as Sunday represents the weekend. The results show that the highest level of environmental noise is 75.2 dB(A) occur at the fourth time interval (L4) representing period of 17:00 to 22:00 PM. Based on the location, at SMAN 28 the highest Leq in Point 1 (School Entrance) which is 72 dB(A) and the lowest in point 6 (Biology Laboratory) of 60 dB(A). While at SMK 25 the highest Leq in point 1 (School Entrance) of 71.5 dB(A) and the lowest at Point 5 (Library) is 63.6 dB(A). The noise level at both schools have exceeded the noise level standard (MoE Decree No. 48/1996 and Governor DKI Jakarta Decree No. 551/2001), which was set at 55 dB(A) for the education zone. There is no close relationship between the number of vehicles with the noise levels because the value of regression (R ²) only 0.234 for Mondays, 0.229 Fridays and Sundays 0.106. This means the noise levels that occur could be from the speed of vehicles passing Raya Ragunan Road. The relationship between the noise levels and level of disturbances using linear regression value of R² is 0.6798 means that there is a meaningful relationship between them at 68%. Noise control can be carried out at source, media/environment and receiver. The most effective control of its application is in the media/environment, namely the addition of a natural barrier in the form of plants and artificial barriers such as walls with building materials that can reduce the noise.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?