DETAIL KOLEKSI

Kajian keterkaitan antar Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku dalam rangka peningkatan perekonomian daerah


Oleh : Jeffri Anthone Sapulette

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2018

Pembimbing 1 : Endrawati Fatimah

Pembimbing 2 : Jaap C. Levara

Subyek : Economic growth;Regional development

Kata Kunci : regional development, inter-regional linkages, base sector


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2018_TA_SPW_083001400019_Halaman-Judul_m.pdf 31876.16
2. 2018_TA_SPW_083001400019_Bab-1.pdf 549.29
3. 2018_TA_SPW_083001400019_Bab-2.pdf 1232.97
4. 2018_TA_SPW_083001400019_Bab-3.pdf 290.96
5. 2018_TA_SPW_083001400019_Bab-4.pdf 947.72
6. 2018_TA_SPW_083001400019_Bab-5.pdf 3373.93
7. 2018_TA_SPW_083001400019_Bab-6.pdf 121.05
8. 2018_TA_SPW_083001400019_Daftar-Pustaka.pdf 161.62
9. 2018_TA_SPW_083001400019_Lampiran.pdf 997.48

P Permasalahan rendahnya perekonomian Provinsi Maluku melatarbelakangi penelitian ini yang bertujuan untuk memberikan arahan pengembangan wilayah berdasarkan keterkaitan antardaerah dan kondisi perekonomiannya. Lingkup penelitian ini adalah keterkaitan antardaerah serta kondisi perekonomian wilayah yaitu daerah ekonomi tertekan dan sektor basis daerah. Keterkaitan antardaerah diukur dengan menggunakan kegiatan bongkar muat barang yang menunjukan adanya aliran barang serta nilai sektor PDRB sebagai bentuk gambaran kaitan sectoral antarwilayah. Penggunaan nilai sektor PDRB juga digunakan untuk menunjukan sektor basis wilayah, sedangkan penggambaran mengenai daerah ekonomi tertekan menggunakan laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita. Perekonomian yang tumbuh pesat di Provinsi Maluku berdasarkan hasil analisis tipologi klassen hanya terjadi di Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tenggara, Kabupaten Kepulauan Aru dan Kota Tual. Sementara, tujuh kabupaten lainnya masih memiliki kondisi perekonomian tertekan yaitu ditandai dengan tergolong ke dalam kuadran II, III dan IV. Kondisi ini mengisyaratkan adanya strategi pengembangan wilayah dengan menggunakan sektor basis. Hasil perhitungan LQ menunjukan bahwa sektor basis kabupaten/kota di Provinsi Maluku didominasi oleh sektor pertanian dan perikanan. Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai keterkaitan menggunakan indeks Moran yang menghasilkan bahwa terdapat autokorelasi spasial atau keterkaitan antardaerah di Provinsi Maluku. Nilai perhitungan keterkaitan antardaerah yang meggunakan kegiatan bongkar muat barang adalah 0,12, sedangkan berdasarkan nilai sektor PDRB hanya berkisar 0,01 – 0,24 yang mana nilai tersebut cenderung menunjukan keterkaitan lemah. Dengan tujuan peningkatan pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku, arahan pengembangan yang dapat dilakukan adalah pengembangan sektor pertanian dan perikanan sebagai sektor basis dengan konsep klaster. Setiap klasternya akan memiliki industri pengolahan yang berguna untuk meningkatkan nilai jual sumberdaya sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Hasil olahan akan diekspor melalui Kota Ambon dan Kota Tual sebagai titik ekspor di Provinsi Maluku.

T The problem of the low economy of Maluku Province is the background of this research which aims to offer direction for regional development based on interregional linkages and economic conditions. The scope of this research is the interregional linkages and economic conditions of the region, namely the depressed economic regions and regional basis sectors. Inter-regional linkages are measured using loading and unloading activities that show the flow of goods and the value of the GRDP sector as a form of illustration of the sectoral linkages between regions. The use of GRDP sector values is also used to show the region-based sector, while depictions of economic areas are depressed using the rate of economic growth and per capita of GRDP.The rapidly growing economy in Maluku Province based on the results of typology klassen analysis only occurrs in Ambon City, Southeast Maluku Regency, Aru Islands Regency and Tual City. Meanwhile, seven other counties still have depressed economic conditions, which are marked as belonging to quadrants II, III and IV. This condition implies a regional development strategy using the base sector. The LQ calculation results show that the base sector of district/city in Maluku Province is dominated by agriculture and fisheries. Furthermore, the calculation of the value of the linkages using the Moran index results in the spatial auto-correlation or inter-regional linkages. The value of the calculation of interregional linkages that use the activity of loading and unloading goods is 0.12, while based on the sector value of GDP the range is only 0.01 - 0.24 which value tends to show weak linkages.With the aim of increasing the economic growth of Maluku Province, the direction of development that can be carried out is the development of the agriculture and fisheries sector as a base sector with the cluster concept. Each cluster will have a processing industry that is useful to increase the selling value of resources so as to increase regional economic growth. The processed results will be exported through Ambon City and Tual City as export points in Maluku Province.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?