DETAIL KOLEKSI

Kadar hambat minimum Myrmecodia pendans terhadap candida albicans in vitro (Laporan Penelitian)


Oleh : Kenny Novia Handoyo

Info Katalog

Nomor Panggil : 616.31 HAN k

Penerbit : FKG - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2015

Pembimbing 1 : drg. Indrayani Gunardi, Sp.PM.

Subyek : Dentistry - examination;Dentistry - dental - diagnosis

Kata Kunci : Candida albicans, minimum inhibotory concentration, Myrmecodia pendans,


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2015_TA_KG_04011108_Halaman-Judul.pdf 1786.96
2. 2015_TA_KG_04011108_Bab-1.pdf 655.74
3. 2015_TA_KG_04011108_Bab-2.pdf 769.27
4. 2015_TA_KG_04011108_Bab-3.pdf 816.08
5. 2015_TA_KG_04011108_Bab-4.pdf 660.86
6. 2015_TA_KG_04011108_Bab-5.pdf 679.19
7. 2015_TA_KG_04011108_bab-6.pdf 758.99
8. 2015_TA_KG_04011108_bab-7.pdf 637.62
9. 2015_TA_KG_04011108_Daftar-Pustaka.pdf 720.3
10. 2015_TA_KG_04011108_Lampiran.pdf 1640.73

S Sarang semut (Myrmecodia pendans) merupakan tanaman yang sudah digunakan oleh masyarakat Papua Barat untuk mengobati berbagai penyakit. Di Papua Barat, populasi HIV sampai September 2014 adalah sebesar 228 orang per 100.000 penduduk. Salah satu manifestasi oral dari HIV berupa kandidiasis. Hingga sekarang, M. pendans belum pernah diteliti untuk pengobatan kandidiasis dan pengobatannya masih menggunakan antijamur yang memiliki efek samping. Oleh karena itu perlu dicari bahan obat alternatif untuk mengatasi kandidiasis. Tujuan. Menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) M. pendans terhadap C. albicans. Metode. Eksperimental laboratorium. Ekstraksi M. pendans dilakukan dengan teknik maserasi dan distilasi, dan melalui metode dilusi dibagi menjadi 0.6%, 0.8% dan 1%. Pengujian KHM M. pendans terhadap C. albicans dilakukan melalui metode difusi sumuran dalam media Sabouraud dextrose agar. Sebagai kelompok kontrol, digunakan klorheksidin glukonat 0.025% dan nistatin 24 IU. Hasil penelitian. Rerata KHM M. pendans 0.6%, 0.8% dan 1% terhadap C .albicans sebesar 16.574 ± 1.318, 17.520 ± 2.436, dan 16.652 ± 0.856. Uji Anova tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara M. pendans berbagai konsentrasi dengan kelompok kontrol (P=0.127). Kesimpulan. Konsentrasi M. pendans 0.8% lebih efektif dibandingkan konsentrasi lainnya. Klorheksidin glukonat 0.025% masih memiliki daya antifungal yang paling unggul dibandingkan nistatin 24 IU dan kelompok perlakuan lain.

A Ant plant (Myrmecodia pendans) is a plant that has been used by native people in West Papua Indonesia as herbal medication for various diseases. One of the major health problem in West Papua is HIV infection, with estimated 228 cases per 100.000 people until September 2014. Oral candidiasis may present as the disease progression. Until now, the ant plant is never tested to cure any oral candidiasis and still use an antifungal medication that has side effects. Therefore, necessary to find alternative medication to cure candidiasis. Purpose. To find Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of M. pendans against C. albicans. Method. laboratorial experiment. To extract M. pendans, maceration and distillation techniques are used, and divided into 0.6%, 0.8%, and 1%. To evaluate the MIC of M. pendans, diffusion method is used on C. albicans growth in sabouraud dextrose agar. Chlorhexidine gluconate 0.025% and nystatin 24 IU used as control group. Result. Mean MIC of M. pendans 0.6%, 0.8% and 1% against C. albicans are 16.574 ± 1.318, 17.520 ± 2.436, and 16.652 ± 0.856. Anova test showed no significant difference between various concentrations of M. pendans with control group (P=0.127). Conclusion. The concentration of M. pendans is more effective at 0.8% than other concentration, but chlorhexidine gluconate 0.025% still the most effective antifungal compared with nystatin 24 IU.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?