DETAIL KOLEKSI

Pengendalian kegagalan proses produksi parquet menggunakan metode failure mode and effect analysis (FMEA), peta pengetahuan dan sistem pakar di PT Mutiara Indo Sejati

5.0


Oleh : Frensiska

Info Katalog

Penerbit : FTI - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2011

Pembimbing 1 : Johnson Saragih

Pembimbing 2 : Dedy Sugiarto

Subyek : Failure control - parquet production process;Knowledge map and expert system

Kata Kunci : FMEA, knowledge map, expert system


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2011_TA_TI_06307058_1_Halaman-Judul.pdf 2392.84
2. 2011_TA_TI_06307058_8_Daftar-pustaka.pdf 616.38
3. 2011_TA_TI_06307058_9_Lampiran.pdf 4482.53

P PT. Mutiara Indo Sejati merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi lantai kayu solid yang biasanya disebut dengan parquet. Parquet merupakan lantai yang terbuat dan kayu yang biasanya dipasang sebagai pengganti keramik, manner, granit, atau sebagainya. PT. Mutiara Indo Sejati sangat memperhatikan kualitas produk yang dihasilkan. Bagi perusahaan, dengan menghasilkan kualitas produk yang tinggi akan meningkatkan juga kualitas dan perusahaan di mata pelanggan untuk selalu menggunakan produknya. Berdasarkan data yang diperoleh, pada bulan Agustus 2010 dan September 2010 didapatkan tingkat kecacatan produk pada PT. Mutiara Indo Sejati mencapai 1,3 %. Tingkat kecacatan ini melebihi 0,3 % dan standar kecacatan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Oleh karena itu, PT. Mutiara Indo Sejati ingin mengetahui apa yang mengakibatkan kecacatan atau kualitas yang rendah dan produk akhir yang dihasilkan. Untuk mengetahui sebab dan kecacatan produk, sebelumnya perlu diadakan identifikasi permasalahan dengan cara mewawancarai manager departemen produksi perusahaan sehingga dapat dilanjutkan penelitian tentang metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Alasan penggunaan metode Failure Mode and Effect Analysis yaitu kita dapat mengidentifikasi mode kegagalan proses dan mengetahui tingkat resiko atau nilai RPN dan kegagalan tersebut sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikan untuk mengatasi masalah kegagalan proses yang dihadapi perusahaan. Proses yang memiliki nilai RPN tertinggi akan mendapatkan kelas prioritas A, yaitu proses penghalusan dengan nilai RPN 210 dan proses pembuatan TNG dengan nilai RPN 240. Upaya penanggulangan dan setiap proses tersebut akan direfleksikan ke dalam sistem pakar (Expert System), sedangkan untuk pengembangan peta pengetahuan (Knowledge Map) hanya dilakukan untuk proses-proses yang memiliki kelas prioritas paling tinggi. Hasil output dan kedua metode berisi informasi-informasi berupa upaya-upaya penanggulangan masalah kegagalan proses yang dihadapi oleh PT. Mutiara Indo Sejati sehingga memudahkan proses pencarian informasi dan proses pengambilan keputusan dalam menghadapi berbagai masalah dalam proses produksi tanpa harus berhubungan langsung dengan pakar.

P PT. Mutiara Indo Sejati is a company which runs its business in the sector of the production of solid wood tiles, usually called as parquet. Parquet is tiles made of wood that are usually installed as a replacement for ceramic tiles, marble tiles, granite tiles, or the like. PT. Mutiara Indo Sejati is very concerned about the quality of the products. For the company, manufacturing high quality products also means increasing the prestige of the company in the eyes of its customers; therefore they will always use the products. Based on the data obtained, in August 2010 and September 2010, it was found that the products' defect rate in PT. Mutiara Indo Sejati reached 1.3%. This defect level exceeds 0.3% from the standard of defect that has been set by the company. Therefore, PT. Mutiara Indo Sejati wants to know the cause of the defect or the explanation for the low quality of the final products. To find out the cause of the products' defect, it is necessary to identify the problems by interviewing the manager of the company's production department beforehand, so the research on Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) method can be carried on. By using this method, we can identifying the process failure mode and determine failure risk values, so the mending action can be executed in order to overcome the problem of the process' failure faced by the company. The process with the highest RPN values will be given priority class A, which includes molding process with a RPN value of 210 and TNG making process with a RPN value of 240. The efforts to overcome the problems from each of the processes will be reflected into the Expert System; meanwhile the Knowledge Map development will be executed only for processes with the highest priority class. Results from both methods output contains the information of the efforts of the failures problems faced by PT. Mutiara Indo Sejati, so information tracing process and decision making process in dealing with various problems of production process can be done easily without having direct exchanges with the experts.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?