DETAIL KOLEKSI

Kajian jumlah titik panas sebagai indikator kebakaran hutan dan lahan terhadap kualitas udara di Pontianak


Oleh : Anniesha Alqarina Putri

Info Katalog

Penerbit : FALTL - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2016

Pembimbing 1 : Hernani Yulinawati

Pembimbing 2 : Diana Hendrawan

Subyek : Forest fire indicator

Kata Kunci : forest, fire, hotspot, ispu, west borneo


File Repositori
No. Nama File Ukuran (KB) Status
1. 2016_TA_TL_08212008_Halaman-Judul.pdf 1827.11
2. 2016_TA_TL_08212008_Bab-1.pdf 89.55
3. 2016_TA_TL_08212008_Bab-2.pdf 495.46
4. 2016_TA_TL_08212008_Bab-3.pdf 2069.03
5. 2016_TA_TL_08212008_Bab-4.pdf 4716.78
6. 2016_TA_TL_08212008_Bab-5.pdf 95.38
7. 2016_TA_TL_08212008_Daftar-Pustaka.pdf 115.98
8. 2016_TA_TL_08212008_Lampiran.pdf 925.3

S Salah satu provinsi di Indonesia yang mengalami permasalahan pencemaran udara akibat dari kebakaran hutan adalah provinsi Kalimantan Barat. Kota Pontianak merupakan salah satu kota di Kalimantan Barat yang terkena dampak dari asap kebakaran hutan. Untuk mengetahui hubungan kebakaran hutan dengan perubahan kualitas udara adalah dengan data jumlah titik panas (hotspot) dan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menganalisis: 1) jumlah dan lokasi hotspot di Provinsi Kalimantan Barat tahun 2011-2015 2) nilai ISPU Kota Pontianak tahun 2011-2015, 3) kondisi meteorologi Kota Pontianak, dan 4) hubungan antara jumlah dan lokasi hotspot Kalimantan Barat dengan nilai ISPU Kota Pontianak. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diambil dari instansi terkait di Kalimantan Barat. Lokasi yang memiliki jumlah hotspot tertinggi pada tahun 2011 adalah Kab. Ketapang (1470 titik), tahun 2012 adalah Kab. Sintang (1157 titik), tahun 2013 adalah Kab. Ketapang (1047 titik), tahun 2014 adalah Kab. Sanggau (1053), tahun 2015 adalah Kab. Ketapang (985 titik). Dengan kecenderungan jumlah hotspot setiap tahunnya adalah menurun. Nilai ISPU bulan Agustus tahun 2011-2015 untuk PM10 berkisar 53,8-79,9 (kategori “sedang”), CO berkisar 4,7-9,4 (kategori “baik”), NO2 berkisar 3,8-3,9 (kategori “baik”), SO2 berkisar 6,4-19,2 (kategori “baik”), dan O3 berkisar antara 13,5-15,1 (kategori “baik”). Parameter ISPU dominan untuk setiap tahun adalah PM10. Kondisi meteorologi Kota Pontianak bulan Agustus dan September tahun 2011-2015 menunjukkan suhu berkisar 30○C-35○C dan curah hujan berkisar 100-320 mm. Arah angin dominan pada bulan Agustus adalah dari arah Timur (2011 dan 2015), dari arah Tenggara (2012), dan dari arah Barat (2013 dan 2014). Arah angin pada bulan September adalah dari arah Selatan (2011), Tenggara (2012, 2013, 2015), dan Timur (2014). Dengan kecenderungan arah angin dominan adalah dari arah Tenggara. Analisis korelasi hubungan antara jumlah hotspot dengan nilai ISPU PM10 mendapatkan nilai R2 sebesar 0,26-0,60 yang menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah hotspot yang terpantau di Kalimantan Barat, maka akan mempengaruhi kualitas ISPU di Kota Pontianak. Perlu dilakukan minimalisasi kejadian kebakaran hutan, salah satunya dengan cara sistem peringatan dini yang merupakan integrasi dari unsur-unsur cuaca dan bahan bakar penyebab kebakaran hutan.

O One of the provinces in Indonesia that is experiencing problems due to the air pollution from forest fires is the province of West Borneo. Pontianak is one of the city in West Borneo was affected by forest fire smoke. To determine the relationship between forest fires and changes in air quality, analysis is done by using data of the number of hotspots data and Air Pollution Standard Index (ISPU) data. This study was conducted with the aims to determine and analyze: 1) the number and location of the hotspots in West Borneo Province 2011-2015 2) the value of ISPU Pontianak city 2011-2015, 3) meteorological conditions Pontianak city , and 4) the relationship between the number and location of the hotspots in West Borneo with value of ISPU Pontianak. Data used in the form of secondary data drawn from relevant agencies in West Borneo. The location that has the highest number of hotspots in 2011 was Kab. Ketapang (1470 points), in 2012 was Kab. Sintang (1157 points), in 2013 was Kab. Ketapang (1047 points), in 2014 was Kab. Sanggau (1053), in 2015 was Kab. Ketapang (985 points). The trend of the number of hotspots each year is declining. ISPU value in August year 2011-2015 for PM10 ranged from 53.8 to 79.9 (the category of "moderate"), CO ranging from 4.7 to 9.4 ( "good" category), NO2 ranging from 3.8 to 3.9 (category "good"), SO2 ranged from 6.4 to 19.2 (the category of "good"), and O3 ranging from 13.5 to 15.1 (the category of "good"). ISPU dominant parameter for each year is the PM10. Pontianak City meteorological conditions in August and September of 2011-2015 showed that the temperature ranges from 30 â—‹C-35 â—‹C and rainfall ranges from 100-320 mm. Dominant wind direction in August was from the East (2011 and 2015), from the southeast (2012), and from the West (2013 and 2014). In September wind direction is from the south (2011), Southeast (2012, 2013, 2015), and East (2014). The trend of the dominant wind direction is from the East direction. Analysis of correlation between the number of hotspots with ISPU PM10 shows value of R2 0,26-0,60. Which means that the more the number of hotspots observed in West Kalimantan, the worse the quality of ISPU in Pontianak. Necessary to minimize the incidence of forest fires, by early warning systems, which is integration observation of the elements of weather and fuel causes of forest fires.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?