Rencana pemberian upah perangsang bagi pekerja langsung di bagian pengolahan teh PT. Perkebunan XII Sukabumi Jawa Barat
Penerbit : FTI - Usakti
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 1995
Pembimbing 1 : Docki Saraswati
Subyek : Corporations - Management;Wage payment systems
Kata Kunci : wages, incentives, direct labor, tea processing, PT. Perkebunan XII Sukabumi, West Java
Status Posting : Published
Status : Tidak Lengkap
| No. | Nama File | Hal. | Link |
|---|---|---|---|
| 1. | 1995_TA_STI_13884058_Halaman-Judul.pdf | 5 | |
| 2. | 1995_TA_STI_13884058_Lembar-Pengesahan.pdf | 1 | |
| 3. | 1995_TA_STI_13884058_Bab-1_Pendahuluan.pdf | 6 | |
| 4. | 1995_TA_STI_13884058_Bab-2_Landasan-Teori.pdf |
|
|
| 5. | 1995_TA_STI_13884058_Bab-3_Metodologi-Penelitian.pdf |
|
|
| 6. | 1995_TA_STI_13884058_Bab-4_Pengumpulan-Dan-Pengolahan-Data.pdf |
|
|
| 7. | 1995_TA_STI_13884058_Bab-5_Analisa-Penerapan-Sistem-Upah-Perangsang.pdf |
|
|
| 8. | 1995_TA_STI_13884058_Bab-6_Kesimpulan-Dan-Saran.pdf | 6 | |
| 9. | 1995_TA_STI_13884058_Daftar-Pustaka.pdf | 1 | |
| 10. | 1995_TA_STI_13884058_Lampiran.pdf |
|
P Pabrik pengolahan teh hitam yang termasuk di dalam PT. Perkebunan XII desa Parakan Salak Sukabumi Jawa Barat merupakan salah satu perusahaan milik pemerintah adalah salah satu pabrik yang menghasilkan teh hitam berkualitas baik di Indoensia. Pengolahan teh hitam meliputi beberapa tahapan proses yaitu pelayuan, penggilingan, pengayakan, fermentasi, pengeringan dan sortasi. Proses pengolahan teh ini merupakan suatu proses yang saling berurutan. Selama ini sistem pengupahan yang digunakan oleh pabrik pengolahan teh tersebut bagi pekerja langsung bagian pengolahan menggunakan sistem upah harian. Pada sistem ini perhitungan upah didasarkan pada waktu kerja, artinya waktu kerja pekerja digunakan sebagai ukuran dalam menetukan besarnya upah. Upah yang diperoleh pekerja selama 7 jam kerja per hari adalah sebesar Rp. 4.600,- sesuai dengan standarisasi upah dari pemerintah. Situasi per-teh-an di Indonesia mengalami kondisi yang tidak menentu dimana terjadi penurunan sebesar + US$ 1 per kg dari kuartal terakhir tahun 1994 di pasaran internasional. Semua ini tidak bisa dihindari mengingat penawaran dan permintaan sepenuhnya tergantung konsumen (naik dibanding tahun 1994). Untuk memenangkan persaingan tentunya dengan meningkatkan kualitas dengan jumlah produksi yang maksimal, hal ini didukung dengan faktor manusia yang memegang peranan penting terutama pekerja langsung bagian pengolahan. Oleh karena itu perusahaan harus berusaha meningkatkan produktivitas pekerjanya, salah satunya dengan memberikan upah perangsang untuk membangkitkan semangat kerja pekerja agar lebih produktif. Tugas Akhir ini disusun dengan tujuan untuk mengkaji suatu sistem pemberian upah perangsang yang diharapkan dapat mengatasi masalah diatas. Sistem yang diusulkan direalisasikan dalam bentuk uang kepada pekerja yang mampu berproduktivitas diatas standar dalam menghemat waktu produksi.Dengan adanya upah perangsang ini, maka pendapatan pekerja bertambah sehingga diharapkan motivasi kerja pekerja semakin besar dan produktivitas pekerja juga semakin meningkat. Rencana upah pereangsang yang dipilih adalah dengan menggunakan metoda Halsey. Dengan metoda ini pekerja akan, mendapat upah minimum yang ditambah dengan upah(g perangsang yang besarnya sebanding dengan waktu yang dihemat. Waktu yang dihemat sebanding dengan kenaikan produksi. Persentase tarip upah minimum (p) yang digunakan dalam pemberian upah perangsang dimaksudkan untuk menurunkan ongkos pekerja per satuan produk serta meningkatkan produksi. Pendistribusian upah perangsang kepada anggota kelompok didasarkan atas penilaian faktor perfomance masing-masing pekerja. Faktor-faktor penilaian tersebut adalah : kesungguhan kerja, disiplin kerja, kerja sama dan kehadiran kerja.
T The black tea processing factory, which is part of PT. Perkebunan XII in Parakan Salak Village, Sukabumi, West Java, is a government-owned company and one of the factories producing high-quality black tea in Indonesia. Black tea processing involves several stages: withering, milling, sieving, fermentation, drying, and sorting. This tea processing process is a sequential process. The wage system used by the tea processing factory for direct workers in the processing section is a daily wage system. In this system, wage calculations are based on working hours, meaning that workers' working hours are used as a measure in determining the amount of wages. The wages earned by workers for a 7-hour workday are Rp. 4,600,- in accordance with government wage standards. The tea market situation in Indonesia is experiencing uncertain conditions, with a decline of + US$ 1 per kg from the last quarter of 1994 in the international market. All of this is unavoidable, considering that supply and demand are entirely dependent on consumers (up compared to 1994). To win the competition, of course, by improving quality with maximum production quantity, this is supported by human factors that play an important role, especially workers directly in the processing section. Therefore, companies must strive to increase the productivity of their workers, one of which is by providing incentive wages to raise the enthusiasm of workers to be more productive. This Final Project was compiled with the aim of studying a system of incentive wages that is expected to overcome the above problems. The proposed system is realized in the form of money to workers who are able to produce above standard in saving production time. With this incentive wage, workers' income increases so that it is expected that workers' work motivation will be greater and worker productivity will also increase. The incentive wage plan chosen is to use the Halsey method. With this method, workers will receive a minimum wage plus an incentive wage (g) that is proportional to the time saved. The time saved is proportional to the increase in production. The percentage of the minimum wage rate (p) used in providing incentive wages is intended to reduce labor costs per unit of product and increase production. The distribution of incentive wages to group members is based on an assessment of each worker's performance factors. These assessment factors are: work commitment, work discipline, cooperation and work attendance.