DETAIL KOLEKSI

Penerapan konsep “seen and to be seen” di ruang bangunan pusat perbelanjaan studi kasus: neo soho mall, jakarta


Oleh : Rizki Desi Melani Putri

Info Katalog

Subyek : Shopping centers - Architecture;Visual perception - Architecture

Penerbit : FTSP - Usakti

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2026

Pembimbing 1 : Gede Oka Sindhu Pribadi

Kata Kunci : commercial architecture, seen and to be seen, visual perception, Neo Soho Mall.

Status Posting : Published

Status : Lengkap


File Repositori
No. Nama File Hal. Link
1. 2026_TS_MAR_152012400008_Halaman-Judul.pdf 17
2. 2026_TS_MAR_152012400008_Surat-Pernyataan-Revisi-Terakhir.pdf 1
3. 2026_TS_MAR_152012400008_Surat-Hasil-Similaritas.pdf 1
4. 2026_TS_MAR_152012400008_Halaman-Pernyataan-Persetujuan-Publikasi-Tugas-Akhir-untuk-Kepentingan-Akademis.pdf 1
5. 2026_TS_MAR_152012400008_Lembar-Pengesahan.pdf 1
6. 2026_TS_MAR_152012400008_Pernyataan-Orisinalitas.pdf 1
7. 2026_TS_MAR_152012400008_Formulir-Persetujuan-Publikasi-Karya-Ilmiah.pdf 1
8. 2026_TS_MAR_152012400008_Bab-1.pdf 22
9. 2026_TS_MAR_152012400008_Bab-2.pdf 42
10. 2026_TS_MAR_152012400008_Bab-3.pdf 9
11. 2026_TS_MAR_152012400008_Bab-4.pdf 61
12. 2026_TS_MAR_152012400008_Bab-5.pdf 6
13. 2026_TS_MAR_152012400008_Daftar-Pustaka.pdf 5
14. 2026_TS_MAR_152012400008_Lampiran.pdf 1

N Neo soho mall jakarta merupakan pusat perbelanjaan yang tidak hanya berfungsisebagai ruang komersial, tetapi juga sebagai ruang sosial tempat aktivitas melihatdan dilihat berlangsung secara intens. fenomena tersebut sejalan dengan konsepseen and to be seen, di mana arsitektur berperan sebagai medium pembentuk relasivisual antar pengguna. penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana elemendesain neo soho mall—meliputi fasad, sirkulasi, konfigurasi ruang, dan elemenatraksi—menciptakan pengalaman visual yang memengaruhi perilaku pengunjung.metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. datadiperoleh melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, serta analisis spasialterhadap tata massa, void, jembatan penghubung, dan pola pergerakan pengunjung.analisis dilakukan secara deskriptif-interpretatif berdasarkan teori persepsiarsitektur dan ruang konsumsi.hasil penelitian menunjukkan bahwa transparansi fasad, keterbukaan void atrium,serta integrasi ruang dalam–luar membentuk hierarki visual yang menempatkanpengunjung sebagai subjek sekaligus objek tontonan. desain tersebut mendoronginteraksi sosial, aktivitas swafoto, dan pembentukan citra gaya hidup urban. dengandemikian, neo soho mall memperlihatkan bahwa arsitektur komersial bersifatperformatif, tidak sekadar mewadahi fungsi belanja tetapi juga mengonstruksipengalaman sosial berbasis visual.

N Neo soho mall jakarta functions not only as a commercial facility but also as asocial space where the act of seeing and being seen occurs intensively. thisphenomenon corresponds with the concept of seen and to be seen, in whicharchitecture becomes a medium that constructs visual relationships among users.this study aims to analyze how the design elements of neo soho mall—includingfaçade, circulation, spatial configuration, and visual attractions—create visualexperiences that influence visitor behavior.the research employs a qualitative case study approach. data were collectedthrough field observation, visual documentation, and spatial analysis of masscomposition, atrium voids, connecting bridges, and movement patterns. theanalysis was conducted descriptively and interpretatively based on theories ofarchitectural perception and consumer space.the findings indicate that façade transparency, open atriums, and the integration ofinterior–exterior spaces generate a visual hierarchy positioning visitors as bothsubjects and objects of display. such design encourages social interaction, selfieactivities, and the formation of an urban lifestyle image. therefore, neo soho malldemonstrates that commercial architecture is performative, not merelyaccommodating shopping functions but also constructing visual-based socialexperiences.

Bagaimana Anda menilai Koleksi ini ?